EKSISTING BUMDES KABUPATEN BLITAR PER OKTOBER 2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam transisi bisnis saat ini. perubahan yang sangat nampak yaitu terjadinya perubahan sistem di mana sistem besar bisnis sangat lentur
dengan perubahan yang sangat cepat.
Salah satu perubahan yang sangat cepat itu adalah terjadinya perubahan konsumen dalam melihat entitas bisnis tidak lagi seperti dahulu. Konsumen memiliki
ruang yang luas dalam pengambilan
keputusan. Perilaku konsumen ini yang menadi penentu kea rah mana bisnis
akan bergerak. Hal ini memerlukan penyikapan yang sangat cepat. seperti berkejaran
dengan waktu Siapa yang sampai dulu pada garis awal (titik dimana perubahan
mulai terjadi) adalah berpotensi untuk
memenangkan persaingan. Pemilik bisnis tradisional memiliki pemikiran bahwa kalau mereka
tidak berubah dari bisnis seperti
saat ini maka bisnis mereka akan mengalami hambatan. Sehingga dorongan ini tidak sekadar hanya sebatas ikut tren
perubahan, namun menjadi pilihan hidup dan matinya bisnis mereka.
Pemikiran tentang transformasi bisnis tradisional ke dalam bisnis
digital itu sudah ada tanda tanda sejak awal tahun 90-an artinya pebisnis
tradisional sudah memiliki
gambaran bahwa suatu saat
iklim bisnis dunia akan mengalami perubahan signifikan. Hal ini ditandai dengan hadirnya jaringan internet dan telpon pintar. Salah satu contoh yang sangat nampak di depan mata adalah tumbangnya bisnis
raksasa dan semakin masifnya bisnis baru, yang mana pondasi bisnis tersebut
tidak memiliki patron seperti saat bisnis tradisional dibangun. Perubahan iklim yang semakin cepat
serta merta diikuti oleh macetnya lalu lintas bisnis karena pergerakan inovasi yang liar. Liar dalam hal ini artinya,
para pebisnis berusaha untuk menyelamatkan diri dari sergapan bisnis yang Cheos.
Cheos karena terjadi
kebangkrutan bisnis secara bersama-sama di Negara besar. Kejadian ini berlaku serentak
dan menimbulkan keguncangan pebisnis.
Hal itu dapat menjadi pelajaran terhadap masih bertahannya bisnis
yang menggurita namun bisnis tersebut bisa efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya manusia
dan ada dukungan yang luar biasa terhadap inovasi. Lalu bagaimana terhadap jalannya
bisnis monopoli yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan sangat populer bagi kehidupan masyarakat. Contohnya
adalah seperti di Indonesia bisnis
pupuk dan obat-obatan pertanian. Lebih tepatnya kita sebut bisnis sarana dan
prasarana pertanian. Sarana dan
prasarana itu meliputi benih, obat-obatan pettanian, pupuk alat system pengelolaan hasil pertanaian (mekanisasi teknologi
pertanian) dan sebagaianya.
Beberapa persoalan yang ada di lapangan dan yang sangat mengemuka: pertama
penguasaan bisnis secara
monopoli. Kedua persaingan bisnis
yang tidak seimbang antara usaha rakyat dengan usaha korporasi.
Ketiga persaingan pasar tradisional dan digital yang tidak berjalan
selaras. Keempat proses transisi
yang dihadapi oleh bisnis rakyat untuk mengejar ketertinggalan dalam iklim usaha yang menggunakan pemasaran secara digital. Sedangkan visi misi pemerintah dalam pembangunan bidang pertanian paling tidak seringkali didengungkan terkait dengan Swasembada pangan,
kelembagaan bumdes bumdesma,
ketahanan pangan, diversifikasi sumber bahan pangan.
1.2. Kelembagaan Bumdes
Bumdesma
Membangun kelembagaan bumdes bumdesma pada dasarnya adalah membangun kemandirian yang berdaulat untuk menentukan sendiri
dan mengendalikan sepenuhnya entitas bisnis di desa dan semua factor pendukung yang mandiri
(sehat) bagi lembaga desa dan masyarakat
pada desa yang bersangkutan. Dalam konsep kelestarian usaha desa,
kelembagaan bumdes bumdesma, adalah upaya memberi
martabat kepada ciptaan Tuhan berupa kesungguhatian, pemanfaatan potensi bagi kesejahteraan umat manusia. Dalam program
kelembagaan bumdes bumdesma pemerintah memberi perhatian istimewa dengan cara memasukkan bumdes
dan bumdesma dalam prioritas pembangunan tahun 2020 – 2023. Hal ini menjadi penanda atau system
peringatan dini upaya peningkatan ekonomi
adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan dan jati diri desa,
Dalam skema pembiayaan dana desa untuk kelembagaan bumdes dan bumdesma
jumlahnya wajibnya meningkat dari tahun ke tahun. Karena pentingnya
penghargaan terhadap kelangsungan hidup ekonomi desa dan tidak berlebihan kalau Menteri Desa mengatur, memastikan, mengawal besarnya prosesntase penyertaan modal bumdes dan bumdesma
tersebut. Sehiungga, pada suatu saat dana desa
tidak lagi dikucurkan oleh pemerintah pusat, desa sudah mandiri dengan dengan keberadaan mampu menjadi entitas
yang mandiri. Semakin
berkembang zaman semakin
besar pula ancaman terhadap kehidupan ekonomi desa.
Betapa tidak, selain belum tuntasnya
persoalan kekuatan bumdes dan bumdesma
ancaman lain seperti entitas kesulitan pekerjaan warga desa pada
pemulihan ekonomi juga terjadi.Dampak
langsung yang dirasakan adalah kehidupan warga desa tidak semakin mandiri malah semakin tergantung dari kekuatan intervensi ekonomi dari induistri luar desa. Di desa desa Kabupaten Blitar yang mayoritas mata
pencarian adalah pertanian maka bumdes
dapat memanfaatkan potensi ekonomi mengabungkan dengan budaya masyarakat. Namun,
desakan yang memposisikan petani sebagai subyek ekonomi yang selalu tergantung kepada produksi dasar pertanian juga
menjadi persoalan yang menahun yang belum tuntas. Peluang ini bisa dijawab oleh bumdes.
Pertanian di desa bukan menjadi pilihan pekerjaan yang menarik dan belum mampu memikat generasi muda untuk bekerja dalam
bidang ini. Banyak faktor yang menyebabkannya.
Salah satunya adalah dengan kekuatan yang dipunyai rata rata petani desa, yang sekadar bertahan
hidup. Bahkan seringkali kondisi
ekonominya malah menyedihkan.
Ada 2 kekuatan
yang selalu menjadi
tantangan bagi petani desa pertama
kekuatan internal yang berupa
inovasi dan kekuatan dalam manajemen pertanian berhadapan dengan kekuatan
eksternal seperti kebijakan dan intervensi industri
pertanian. Pada ranah internal ada persoalan ancaman
kemandirian lembaga petani karena tekanan kekuatan besar pasar yang
bertubi-tubi. Tekanan ini dimaknai
sebagai faktor yang melemahkan. Pada
ranah eksternal ada intervensi kekuatan global yang masuk dan menekan melalui
perjanjian internasional yang arus utamanya
mengarah pada pencabutan subsidi pertanian. Pada sisi pemerintahan, Indonesia harus membuka
diri terhadap industri
besar pertanian dari perusahaan swasta
multi nasional. Dampaknya kebijakan diatas adalah pada sektor kehidupan pertanian
terjadi pergeseran orientasi dari petani yang berdaya menjadi
serba tergantung, Cita cita besar untuk berswasembada seiring dengan kekuatan
industri besar yang mengarahkan kita sebagai pasar terbuka yang sangat besar
dalam koridor pasar bebas tak terkendali.
Masuknya industri besar pertanian multinasional membawa perubahan
pada beberapa hal dasar (George,
2007, 121-129) seperti di bawah ini. Pertama adalah biaya sumber daya manusia. Jumlah petani berkurang drastis.
Petani yang pada awalnya bekerja dengan berdasar pada budaya asal kemudian beralih profesi dengan
pekerjaan lain. Petani mulai meninggalkan sawah dan ladang dan beralih
kepekerjaan lain sebagai
buruh atau pedagang. Persoalanya karena lahan mulai berkurang dan bertani
hanya sekadar bertahan hidup dan
seringkali mereka kalah dalam berusaha. Faktor ini muncul karena adanya pertambahan jumlah penduduk karena bertani tidak lagi efisien sebagai sebuah
pekerjaan. Ancaman dari perubahan ini adalah hancurnya
pusat kebudayaan agraris
di desa. Faktor besarnya biaya produksi pertanian
tidak sebanding dengan pendapatan dari hasil panen, menjadi sebuah
kesenjangan yang semakin melebar.
Kedua adalah biaya gizi dan kesehatan. Banyak bermunculan industri
makanan olahan yang mengandung banyak
bahan tambahan yang kebanyakan tidak bergizi atau tidak sehat sehingga
menurunkan nilai gizi, meningkatkan angka penyakit menahun
dan bahkan meningkatkan penyakit baru. Ketiga
adalah biaya lingkungan hidup. Dalam
sistem pangan yang seperti itu, jika ingin mempertahankan hidup seperti petani harus memastikan tidak ada sekecilpun
yang hilang dari hasil produksi
lahan yang dikerjakannya. Para petani biasanya
akan memanen sesegera
mungkin tanpa memikirkan berbagai biaya jangka panjang yang harus mereka
tanggung seperti hilangnya lapisan
humus. Penggunakan pupuk kimia, pestisida
yang tak terkontrol serta pengeboran sumber air akan dapat merusak
lingkungan. Keempat adalah biaya energi. Untuk
menjaga agar sistem pertanian berjalan maka akan membutuhkan energi yang besar. Sistem pangan seperti ini
mengakibatkan penggunaan energi yang besar.
Sejak 1940-1970 sampai
saat ini penggunaan energi sudah meningkat
3 kali lipat.
Kelima adalah biaya genetika. Adanya penyeragaman genetika
varietas baru dan produksi bibit baru tanaman
menyebabkan para petani dan konsumen
menanggung biaya besar untuk pengelolaan pertanian. Sampai
saat ini upaya tersebut sangat kritis karena pada kondisi nyata para petani tidak terlindungi dalam pemuliaan
tanaman dan berhadapan dengan perusahaan
besar pertanian. Ironisnya upaya petani untuk
mandiri tidak terlindungi secara hukum. Siapa yang menerima keuntungan dari perubahan sistem pangan di
Indonesia. Tentunya adalah Negara-negara kaya yang memiliki
instrumen lengkap industri
yang beroperasi dan beraktifitas
di Indonesia. Kalau dahulu bentuk penjajahan (kolonialis) adalah penguasaan
asset melalui penguasaan wilayah.
Ketika sebuah Negara dijajah maka secara otomatis ekplorasi dan ekploitasi berlangsung. Sistem yang dibuat oleh penjajah ini melindungi penguasaan dan pelarian kekayaan
alam ke megara penjajah.
Pada era modern, bentuk pelarian kekayaan ini berubah. Tidak lagi
penguasaan wilayah tetapi lebih
kepada intervensi sistem secara massif(imperialis). Sistem ini salah satunya
adalah membentuk blok-blok
perdagangan di mana Negara besar mendominasi dalam kebijakan perdagangan. Alih-alih memperoleh keadilan
dan kemakmuran yang terjadi malah penghisapan
dan ketidakadilan oleh Negara besar ke Negara
dunia ketiga. Kalau kita analisis
kembali bahwa hakekat
kelembagaan bumdes bumdesma
pada intinya adalah
penguasaan desa terhadap
3 aspek penting
yaitu penguasaan terhadap ketersediaan pangan, penguasaan terhadap sumber pangan dan kekuatan
kelembagaan desa dalam pengelolaan pangan.
Penguasaan terhadap ketersediaan pangan meliputi kekuatan desa
dalam hal menjaga adanya kemandirian pangan kekuatan
desa dalam melepaskan diri dari konflik pangan dan krisis pangan, inovasi pengembangan pangan
serta pemahaman terhadap peta pasar pangan dan penguasaan sumber pangan. Sedangkan sumber pangan sendiri bisa di definisikan dengan
penguasaan desa terhadap produksi dan kekuatan sumber daya dukung pendukung dan pola dan budaya konsumsi
masyarakat.
Pada intinya bicara tentang sumber pangan tidak lain bicara
tentang persinggungan
pengupayaan keajegan penyediaan pangan masyarakat dan pola hidup yang bersumber dari pergeseran budaya. Artinya
sumber pangan mengacu pada siklus penyediaan
pangan yang berkembang dari waktu ke waktu sesuai
dengan perubahan budaya
konsumsi. Untuk kelembagaan pangan desa
masudnya adalah upaya lembaga masyarakat desa
dalam hal memperkuat perananya melalui kebijakan
dan produk hukum lainnya. Apakah sumbernya
dari etika budaya atau peraturan formal yang bersumber pada peraturan-pearturan yang ada. Kelembagaan juga mengacu pada
penguatan keamandirian pangan melalui peran aparatur
yang secara massif melindungi komunitas maupun masyarakat melalui ketrampilan pengelola
lembaga. Melihat secara lebih jauh dalam
kegiatan yang bertujuan membangun kelembagaan bumdes bumdesma secara nyata adalah
melepaskan ketergantungan masyarakat dari produk perusahaan raksasa yang beroperasi sampai pada rumah tangga petani.
Produk persoalan yang muncul adalah semua sarana produksi sampai benih sampai pasar sudah ada intervensi pemodal besar. Lalu, bagaimana
agar masyarakat bisa kuat
dan lepas dari ketergantungan kekuatan pasar yang menghegemoni. Pada tindakan perlawanan menuju kepada kelembagaan bumdes bumdesma
sayangnya beberapa solusi masih
terkesan minimalis. Seperti solusi Susan Goerge (2007, 181-186) upaya menuju kelembagaan bumdes
bumdesma adalah dengan
menguatkan yang lemah dan melemahkan kekuatan (modal).
Caranya dengan memiliki
pemikiran dan gaya hidup yang menginginkan perbaikan
sistem pangan yang berorientasi ke rakyat dan berwawasan lingkungan termasuk melemahkan jaring
sistem makanan di tempat kita masing-masing (desa) yang mungkin akan memberi pengaruh melemahkan kekejaman
perusahaan transnasional di Negara dunia ke tiga.
Cara lain yang disodorkan pada tingkat produksi adalah membuat
perserikatan seperti serikat buruh,
tani bahkan konsumen. Meskipun pada tingkatan masing-masing mempunyai kepentingan berbeda tetapi musuhnya
sama yaitu industri
pangan yang serakah. Sebagai kekuatan hukum pada ranah paling kecil dan pada kekuatan penjaga budaya dan tradisi maka desa melalui bumdes dan bumdesmanya mempunyai
peluang strategis untuk mewujudkan kelembagaan ekonomi yang sehat. Pertama yang harus dilakukan desa adalah melawan mitos. Mengapa,
karena selama ini desa hidup dan
diintervensi oleh mitos, terutama mitos tentang kelangkaan pangan. Desa lupa pada hal-hal sederhana , tetapi sangat
mendasar, yang sesungguhnya menjadi pondasi dan pilar utama dari ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan atas
pangan. Sikap semacam itulah yang mulai
hilang di masyarakat desa. Desa dan semua lapisan masyarakat mulai terpesona produk industri raksasa bahwa
teknologi canggih dan rekayasa genetika adalah
salah satu pemecahan
bagi persoalan kelangkaan pangan di masa depan.
BAB II
PELAKSANAAN PENDAMPINGAN
2.1.
PERAN TPP DALAM
PENDAMPINGAN BUMDES BUMDESA
Pengetahuan teoritis badan hukum masih di
dominasi oleh teori fiksi, positivisme hukum, dan teori
hirarki (Hans Kelsen), daripada teori
entintas nyata atau teori organik yang lebih
relevan dengan BUM Desa pada kontes kemandirian Desa di Indonesia. Term ‘teori organ’ ditertibkan menjadi ‘teori organik’ pada konsep badan hukum Gierke yaitu kesatuan
masyarakat hukum yang nyata (Körperschaftsbegriff). Sebab itu, uraian
berikut menganalisis Desa dan BUM Desa sebagai komunitas-organik. Terdiri dari anggota-anggota yang memutuskan dan bertindak sebagai
satu kesatuan kolektif.
Teori moral-hukum Genossenschaft relevan secara normatif dan
empiris untuk meneliti masyarakat
perdesaan di Indonesia. Gierke menggunakan Teori Genossenschaft atas perdesaan Jerman abad ke-19. Rizal Sofyan Gueci menggunakan teori yang sama untuk
menganalisis Desa Pesanggarahan
(Batu, Jawa Timur), Perkumpulan Tani, Nagari (Sumatra Barat), Desa Adat dan Subak (Bali) sebagai Genossenschaft
tradisional Indonesia dalam pluralitas hukum dan otonomi Desa. Diskursus badan usaha dan badan
hukum dibentuk dari filsafat personalitas (Philosophie der Personalität). Ron Harris mengkategori filsafat hukum
personalitas kedalam tipologi hukum inkorporasi, hukum kontraktual, dan hukum rekognisi. Disisi lain Mulhadi
dalam Hukum Perusahaan: Bentuk-bentuk Badan Usaha di
Indonesia mengutip berbagai teori badan hukum
mencakup teori fiksi, teori organ, teori kekayaan bersama, dan teori
kenyataan yuridis. Pilihan argumen-argumen hukumnya
dibatasi pada Dogmatik-hukum. Mulhadi juga menyatakan bahwa Usaha Dagang (UD), Persekutuan Perdata, Persekutuan
Komanditer, dan Firma bukan badan
hukum. Argumentasi hukumnya
didasarkan pada perdebatan yang berlangsung diantara ahli hukum Belanda
pada abad ke-19. Teori organ kurang difungsikan sebagai
kerangka analitis badan hukum. Dogmatik-
hukum cenderung fokus pada ada tidaknya frasa “badan usaha milik desa
adalah badan hukum” dalam suatu peraturan perundang-undangan. Diskursus
badan hukum dalam paradigma
Positivisme Hukum mempunyai keterbatasan berkaitan dengan kekuasaan
negara yang belum tentu memihak badan
usaha yang sudah eksis dalam realitas. Hampir seluruh diskursus teoritis tentang badan hukum di Indonesia bersumber
pada disertasi Houwing. Pemikiran
Houwing berada dalam batasan-batasan
Dogmatik-hukum. Dogmatik-hukum hanya salah satu bagian kecil dari struktur teori hukum dalam arti sempit. Tindakan
komunikatif dari masyarakat tidak diperhitungkan dalam pengetahuan teknis Dogmatik-hukum sebagai
unsur pembentukan diskursus
badan hukum sebagai
subjek hukum.
BUM Desa merupakan bagian organik dari komunitas-organik Desa
(Genossenschaft). Perkembangan badan-badan usaha di Desa merupakan bagian dari konsep
kesatuan masyarakat hukum yang
eksis dalam realitas sosial (Körperschaftsbegriff). Kesatuan masyarakat hukum diakui oleh negara menjadi
badan hukum yang bersifat
organik (Genossenschaft). Konstruksi badan hukum organik atau Korporasi-organik berbeda
dengan Korporasi- normatif (Korporationslehre; Jerman). Korporasi-normatif merupakan
pengetahuan badan hukum yang mengabstraksikan
personalitas-individu atau kelompok dan bersumber dari hukum positif saja. Kekuasaan negara membentuk
dan menjamin Korporasi-normatif menjadi badan
hukum seperti bank Desa, Badan Usaha Unit Desa (BUUD) berbadan hukum
Koperasi, dan BUM Desa periode 1999-2014. Sutoro Eko memberi contoh Lembaga Perkreditan Rakyat (LPD) di Bali tidak punya keabsahan status badan hukum. Keberadaannya didukung
Adat dan menyumbangkan kemakmuran untuk krama Desa.
Kondisi faktual LPD di Desa Adat di Bali merupakan bentuk konkret dari Republik Desa (Dorpsrepublieken) yang otonom dalam mengatur
dan mengurus diri sendiri. Pendapat dari Sutoro Eko secara tidak langsung
mengkritik badan hukum privat dan membuka peluang
analitis terhadap badan hukum organik
yang berkembang untuk diakui sebagai badan hukum publik bercirikan
Desa.
Analisis pada bagian ini selanjutnya dibatasi tidak pada pendalaman
diskursus teoritis tetapi menyusun
gagasan mengenai pengakuan
dan penghormatan terhadap
BUM Desa sebagai badan usaha bercirikan Desa yang
diakui oleh kekuasaan negara sebagai badan hukum dengan uraian ringkas sebagai berikut:
1.
Kewenangan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala Desa merupakan
alasan- alasan hukum bagi Pemerintah
Desa dan BPD untuk mengakui BUM Desa sebagai
badan hukum bercirikan Desa (Badan Hukum Desa) yang dibentuk berdasar
kesepakatan dalam Musyawarah Desa, Peraturan Desa, dan penetapan AD/ART
BUM Desa melalui keputusan kepala
Desa.
2.
Wewenang (bevoegheid) lembaga negara Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang dilegitimasikan dari hukum publik,
merupakan alasan-alasan hukum
bagi kewenangan Menteri Desa untuk mengakui dan menjamin kedudukan BUM Desa sebagai Badan Hukum Publik bercirikan Desa.
3.
Kedudukan BUM Desa baik sebagai Badan Hukum Desa maupun Badan Hukum
Publik Bercirikan Desa berhak
melakukan usaha bersama (co-operative) dan wajib tunduk pada prinsip, semangat,
dan asas kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Hukum pengakuan dan penghormatan terhadap BUM Desa pada susunan
organik BUM Desa lebih
spesifik diuraikan sebagai berikut:
1.
BUM Desa sebagai Badan Hukum Publik Bercirikan Desa dibentuk oleh
Desa sebagai badan hukum publik. Dasar legitimasinya yaitu asas rekognisi-subsidiaritas, musyawarah, dan kekeluargaan-gotong
royong. Asas hukum ini melandasi kewenangan hak
asal-usul dan kewenangan lokal berskala Desa dimana BUM Desa masuk sebagai kategori
kewenangan dimaksud.
2.
BUM Desa sebagai Badan Hukum Publik Bercirikan Desa dibahas dan
disepakati dalam proses deliberatif
(Musyawarah Desa), ditetapkan dengan Peraturan Desa mengenai pendiriannya, dan AD/ART ditetapkan dengan
keputusan Kepala Desa yang mengalir dari norma hukum Peraturan Desa.
3.
BUM Desa sebagai
Badan Hukum Publik Bercirikan Desa memiliki kekayaan
yang dipisahkan dari Desa. Kekayaan BUM Desa merupakan kekayaan Desa yang dipisahkan.
a.
Neraca dan pertanggungjawaban pengurusan BUM Desa dipisahkan dari neraca dan pertanggungjawaban Pemerintah Desa. Kekayaan (aset) BUM Desa bersumber
dari penyertaan modal dari Pemerintah Desa dan penyertaan modal dari masyarakat Desa (tidak berupa
saham).
b.
Kebijakan dari Kementerian Desa PDTT memposisikan Dana Desa sebagai
dana rekognisi-subsidiaritas dan
bukan dana bantuan (medebewind), sehingga dalam perspektif standar akuntansi
lebih tepat diposisikan khusus sebagai modal penyertaan modal dari Desa. Pada konteks
Dana Desa digunakan
sebagai penyertaan modal untuk
BUM Desa melalui pemerintah Desa, maka BUM Desa berwenang menggunakan dana rekognisi-subsidiaritas itu untuk menambah
kegiatan pengembangan, pengelolaan pemasaran, dan lainnya.
c.
Desa berwenang memutuskan BUM Desa membeli aset-aset yang
dibutuhkan untuk pengembangan
usahanya. Tetapi aset-aset tersebut tetap digunakan untuk kepentingan kolektif. Hal ini diputuskan bersama dalam Musyawarah Desa.
d.
Penyertaan modal dalam bentuk saham dari warga Desa lebih
tepat sebagai modal penyertaan individu warga Desa pada Unit Usaha berbadan
hukum PT yang dibentuk oleh BUM Desa. Konsekuensinya, BUM Desa harus stabil pendapatan usahanya dan legitim
secara hukum agar berikutnya mampu melakukan
penyertaan modal-saham pada Unit Usaha berbadan hukum privat (PT). Adapun bantuan
dari pemerintah pusat, pemerintah daerah,
dan pihak ketiga
lebih tepat diposisikan sebagai kewajiban BUM Desa dalam perspektif standar akuntansi keuangan.
Karena BUM Desa terikat kewajiban
sebagai pelaksana bantuan
yang mengalir dari keuangan publik.
4.
BUM Desa sebagai Badan Hukum Publik Bercirikan Desa berhak
memperoleh Dana Desa untuk penyertaan
modal dan kegiatan pengembangan usaha bersama, mengelola aset Desa melalui pemanfaatan aset Desa, menjalankan usaha bersama (holding)
untuk mengorganisir dan mengkonsolidasi usaha-usaha dari warga Desa, dan melakukan
kerjasama kemitraan strategis
dengan pihak lain dari luar Desa. BUM Desa sebagai
Badan Hukum Publik Bercirikan Desa wajib memberikan informasi tentang
kinerjanya secara terbuka kepada publik berkaitan dengan penggunaan Dana Desa, aset Desa, dan hasil kerjasama kemitraan strategis
untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Disinilah struktur
organisasi BUM Desa tidak hanya semata terdiri dari Penasihat, Pelaksana Operasional, dan Pengawas, tetapi meliputi
Musyawarah Desa, Penasihat, Pelaksana
Operasional, Pengawas dan seterusnya sebagai
satu kesatuan organik.
5.
Berkaitan dengan Organ, BUM Desa sebagai Badan Hukum Publik bercirikan Desa berwenang
melakukan perbuatan hukum, baik hukum publik maupun hukum privat, serta dapat menuntut dan dituntut di
pengadilan. Direktur Utama BUM Desa berwenang
untuk melakukan perbuatan
hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan.
6.
Unit usaha BUM Desa yang berstatus perseroan terbatas, diakui
sebagai unit usaha BUM Desa (satu
kesatuan dengan BUM Desa), melalui Peraturan Desa dan Keputusan Kepala Desa yang diuraikan sebelumnya. Hukum
rekognisi ini membentuk BUM Desa dalam teori organik
sebagai Badan Hukum Publik Bercirikan Desa.
7.
Unit usaha BUM Desa berbentuk
perseroan terbatas diradikalisasi menjadi entitas hukum yang baru (the new legal entity)
dibawah kekuasaan BUM Desa sebagai
organisasi payung (holding). Unit usaha BUM Desa diakui berdasar hukum kontraktual dan diabsahkan dihadapan
notaris. Tetapi pengabsahannya tidak memerlukan akta penegasan
karena akta penegasan berakibat hukum pada delegitimasi Peraturan Desa tentang
Pendirian BUM Desa.
8.
Modal-saham yang telah dilepaskan terbuka oleh BUM Desa dan/atau
unit usaha PT bentukannya, tidak
relevan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa karena BUM Desa dibedakan tegas dengan badan hukum PT. Untuk mengantisipasi konflik diantara pemegang saham, akta pendirian PT bentukan BUM
Desa dicermati kembali. Saham tetap
dipertahankan dalam pola mobilisasi modal yang telah dilakukan selama ini oleh BUM Desa, tetapi hal ini harus diungkapkan secara terbuka bahwa modal-saham
dijalankan oleh Unit Usaha PT dan bukan secara langsung oleh BUM Desa. Publik akan mengetahui karakter baru BUM Desa tipe holding yang memayungi unit-unitusaha berbadan
hukum privat tersebut. Selain itu akta pendirian Unit-unit usaha perlu dicermati ulang, berkaitan dengan
hubungan-hubungan antara Kepala Desa, Direktur
BUM Desa, Direktur Unit Usaha (PT), dan warga Desa sebagai pihak
pemegang saham. Hubungan antara kepentingan kolektif
dalam Musyawarah Desa dan kepentingan individual-kelompok dalam Rapat Umum Pemegang
Saham. Direktur Unit Usaha PT bertanggungjawab kepada Direktur Utama BUM Desa.
BAB III
KENDALA DAN MASALAH PENDAMPINGAN
3.1. Kondisi
Eksisting
TPP Kabupaten Blitar mendampingi Bumdes dengan basis permodelan
bisnis. Model bisnis yang dijalankan oleh BUMDes di desa desa di Kabupaten
Blitar adalah penguatan
kelembagaan bumdes. Hal ini sejak awal sudah dapat dipetakan bahwa upaya
itu telah sesuai menerapkan seluruh kriteria taksonomi
pengembangan kerangka klasifikasi Proses, dari standar
yang dimiliki dalam pendampingan bumdes bumdesma. Upaya ini menggunakan indikator proses bisnis dengan mengukur dari kinerja antar
organisasi. Seluruh operasi proses bisnis BUMDes di desa kabupaten Blitar telah melalui enam tingkat
proses, seperti:
1.
Pengembangan Visi dan Strategi
2.
Pemetaan potensi
Desa
3.
Pendaftaran Badan
Hukum Bumdes Bumdesa
4.
Pengembangan dan Pengelolaan Barang
dan Jasa
5.
Pemasaran dan Penjualan Barang dan Jasa
6.
Pengiriman Barang
7.
Pemberian Layanan
8.
Pengelolaan Pelayanan
terhadap Pelanggan
Selain itu bumdes di Kabupaten Blitar juga telah menjalankan tujuh tingkatan terhadap manajemen
dan layanan pendukung, yaitu:
1.
Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Manusia)
2.
Pengelolaan Teknologi Informasi
3.
Pengelolaan Sumber Daya Keuangan) Pengelolaan Sumber Daya Keuangan
4.
Memperoleh, Membangun dan Mengelola Aset
5.
Pengelolaan Risiko Usaha, Kepatuhan, Perbaikan, dan Ketahanan
6.
Pengelolaan Hubungan dengan
Pihak Eksternal
7.
Pengembangan dan Pengelolaan Kemampuan Usaha
Kelemahan pada bumdes di Kabupaten
Blitar yang masih membutuhkan penguatan adalah pada proses di
tingkat 10 sampai tingkat 15 agar nantinya dapat mempertahankan posisinya sebagai BUMDes berkemajuan di segala kondisi,
walaupun mengalami masa pandemi.
3.2.
Unit Usaha
Pendekatan Bisnis BUMDes dioptimalisasi dari unit bisnis BUMDes dan
meliputi semua unit usaha milik lembaga
yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat desa. Kearifan lokal desa sebagai potensi yang
diberdayakan dalam pendekatan bisnis desa. Upaya menganalisis pendekatan bisnis BUMDes dapat dilakukan dengan menganalisis proses
arsitektur model bisnis atau disebut
kerangka klasifikasi proses,
baik proses operasional maupun sumberdaya manusianya (Purabaya, Pradnyana, & Wahyono, 2020). BUMDes adakalanya membutuhkan pendekatan bisnis seperti
menjalin kemitraan dengan pihak eksternal
jika terdapat keterbatasan atas potensi desa, namun merupakan
kewajibannya untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat (Mulatsih
& Purnamadewi, 2020). Metode pengembangan BUMDes berkemajuan melalui
pendekatan bisnis membutuhkan faktor – faktor pendukung yang mampu memperbaiki kinerja BUMDes. Sementara
kinerja BUMDes dipengaruhi oleh strategi pemberdayaan BUMDes (Hidayat & Sulastri,
2019) yang meliputi beberapa bidang penguatan,
antara lain: akuntansi, teknologi informasi, kepemimpinan, tipe bisnis.
Pencapaian strategi pemberdayaan BUMDes dapat dilakukan dengan cara benchmark (tolak
ukur), akreditasi, sistem penjamin mutu internal, dan evaluasi.
Manajemen proses bisnis BUMDes menjabarkan beberapa tingkatan
proses bisnis yang ditata menurut
model kerangka klasifikasi proses, yaitu teridiri dari beberapa tingkatan
proses operasi dan manajemen serta layanan pendukung
(Purabaya et al., 2020). Langkah
mengidentifikasi strategi bisnis BUMDes dengan cara menguraikan analisis
SWOT yang dimiliki desa, seperti
menentukan strategi bisnis BUMDes berada pada titik kuadran (Sumantara et al., 2019). Strategi bisnis BUMDes sangat memungkinkan untuk mengikuti perkembangan
jaman melalui pergeseran model bisnis. Model
bisnis konvesional bergeser
menjadi konsep bisnis modern,
misalnya pergeseran paradigma pengelolaan BUMDes secara birokratik diubah
dengan pengelolaan sektor bisnis dan
tetap mempertimbangkan keterlibatan masyarakat desa sebagai partisipator, karena BUMDes juga merupakan
bisnis sosial (Maab, et all. 2018).
Beberapa unit bisnis BUMDEs yang bisa dikembangkan seperti:
perdagangan, keuangan, dan unit
produksi. Cara mempertahankan dan mengembangkan usaha yang sudah ada pada BUMDes adalah sama dengan strategi
bisnis pada perusahaan pada umumnya, yaitu memonitor segala aktivitas bisnis,
seperti: omset, laba rugi, persediaan barang, promosi, layanan dan lain lain, sedemikian halnya pada strategi
bisnis BUMDes ketika merintis usaha baru yang
harus dilakukan melalui riset pasar (Brawijaya, 2007). Konsep bisnis desa pada BUMDes berkesinambungan dengan kewirausahaan sosial,
karena bergerak pada BUMDes menjalankan dua peran, baik sosial maupun komersial. Kewirausahaan pada BUMDes menempatkan posisi desa dalam kemandirian usaha, yaitu menentukan seberapa besar kontribusi BUMDes terhadap perekonomian desa. Dengan demikian, mencapai BUMDes berkemajuan
diawali dengan sinergitas konsep desa wirausaha, yaitu menggerakkan kewirausahaan masyarakat desa (Kusuma
& Purnasari, 2016).
BUMDes didirikan dengan prinsip dari, oleh dan untuk rakyat,
menjelaskan bahwa pemasok produk BUMDes berasal dari
masyarakat dan juga anggota BUMDes. Oleh karena itu, untuk mampu meningkatkan keunggulan produk BUMDes juga membutuhkan peningkatan kualitas
dari pemasok BUMDes atau masyarakat desa tersebut. Modal pengembangan usaha baru BUMDes melalui gerakan kewirausahaan desa dijalankan secara bersama - sama dengan elemen masyarakat desa karena secara riil di lapangan
modal pembentukan lembaga dibentuk dari modal
dana pemerintah dan dana masyarakat desa tersebut.
3.3.
Badan Hukum
Sampai dengan 17 Oktober 2024 badan hokum bumdes yang telah terealisasi untuk Kabupaten
Blitar sebanyak 132 dari 220 bumdes.
Sedangkan untuk Bumdesma
14 dari 19 Bumdesma. Data tersebut kami cantumkan dalam lampiran
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari hasil analisis tentang pendampingan bisnis di bumdes TPP P3MD KABUPATEN BLITAR dalam Transformasi strategi pemasaran
tradisional ke pemasaran digital untuk usaha dapat disimpulkan bahwa :
1.
TPP P3MD KABUPATEN
BLITAR telah melakukan
pendampingan dan mengawal
perubahan di tingkat organisasi bumdes dengan kondisi analisis SWOT dan
memberikan umpan balik kepada bumdes
2.
Bumdes memiliki syarat utama usaha dengan kegiatan yang dilakukan
selama ini secara social dan dapat berbisnis
dalam lingkup komunitas
dalam tahap awal, setelah itu meningkat di tingkat lebih luas
3.
Strategi pemasaran bumdes dalam usah ekonomi kecil mengembirakan
karena sudah ada bumdes yang berada pada tingkat
progresif artinya bumdes harus mengatasi
hambatan hambatan di internal lembaga
dan eksternal lembaga.
Itu semua belum secara massif padasemua Bumdes.
Namun diantara bumdes ada yang berada pada tahap
maju yaitu sudah mampu mengatasi hambatan regulasi , hambatan izin berusaha, merek,
modal pengembangan usaha dan pemasaran
4.
Pada tingkat pemasaran digital dengan memanfaatkan media social
sudah banyak yang dilakukan oleh TPP
P3MD KABUPATEN BLITAR untuk membantu bumdes menembus pasar, karena selama ini terbiasa dengan pemasaran tradisional
dengan memanfaatkan kebutuhan
komunitas. Istilahnya sudah mengenalkan dan menggunakan market place dan digital marketing
5.
Bumdes dalam bimbingan TPP P3MD KABUPATEN BLITAR masih memerlukan
waktu lama untuk menjajaki pasar digital karena langkah langkahnya masih di awal bisnis digital
yang memiliki model khusus dan sangat berbeda
dengan pasar tradisional
6.
Sebagai bagian dari lembaga pendampingan, TPP P3MD KABUPATEN
BLITAR masih harus keluar dari polanya dan beruisaha menggunakan model model bisnis yang memiliki
perhitungan resiko yang tinggi
Dalam hal hubungan bahan baku dan hubungan dengan mitra TPP P3MD
KABUPATEN BLITAR berada dalam jalur
yang benar. Namun demikian terhadap kondisi mitra, TPP P3MD KABUPATEN BLITAR perlu mendampingi Bumdes dalam menjalin strategi bisnis dengan pola MOU atau kontrak
dengan mitra yang kuat.
Pendaftaran badan hukum Badan Usaha Milik
Desa (BUMDes) di Kabupaten Blitar menghadapi berbagai hambatan yang cukup
signifikan, baik dari sisi administratif maupun praktis. Salah satu hambatan
utama yang dihadapi oleh desa-desa dalam proses pendaftaran adalah kurangnya
pemahaman yang mendalam mengenai persyaratan dan prosedur yang berlaku.
Meskipun pemerintah telah menyediakan panduan, namun masih banyak pihak yang
merasa kesulitan untuk mengikuti proses pendaftaran badan hukum BUMDes sesuai
dengan ketentuan yang ada. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang
efektif dari pemerintah daerah kepada masyarakat desa mengenai pentingnya
legalitas hukum bagi BUMDes dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk
mendaftar. Selain itu, minimnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di
bidang hukum dan administrasi di tingkat desa menjadi kendala besar. Banyak
desa yang tidak memiliki staf yang berpengalaman dalam urusan hukum, sehingga
mereka kesulitan untuk menyusun dokumen-dokumen yang diperlukan, seperti akta
pendirian, anggaran dasar, serta dokumen lainnya yang menjadi persyaratan utama
dalam pendaftaran badan hukum.
Hambatan lainnya terkait dengan
keterbatasan dana dan infrastruktur di desa. Proses pendaftaran badan hukum
memerlukan biaya yang cukup besar, baik untuk biaya notaris, administrasi,
hingga biaya lainnya yang berhubungan dengan legalitas. Di sisi lain, banyak
desa di Kabupaten Blitar yang anggaran dana desanya terbatas, sehingga tidak
dapat mengalokasikan anggaran yang cukup untuk menutupi biaya-biaya tersebut.
Selain itu, beberapa desa juga menghadapi kendala dalam hal infrastruktur
pendukung, seperti jaringan internet yang terbatas atau tidak stabil, yang menghambat
proses pendaftaran secara online yang kini menjadi salah satu syarat utama
untuk mendaftar badan hukum. Padahal, pendaftaran badan hukum BUMDes harus
dilakukan melalui sistem administrasi yang sudah terintegrasi secara
elektronik, yang mana memerlukan perangkat dan koneksi internet yang memadai.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah
desa dengan instansi terkait juga menjadi masalah. Terkadang terdapat perbedaan
pemahaman atau ketidakselarasan antara pemerintah desa dengan pihak yang
menangani pendaftaran badan hukum di tingkat kabupaten, seperti Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) atau Badan Hukum yang ada. Hal ini
dapat menyebabkan proses pendaftaran menjadi lebih lama dan memunculkan
kebingungannya pihak desa mengenai langkah-langkah yang perlu diambil.
Kurangnya pendampingan teknis dari pihak yang berkompeten juga menambah
kesulitan bagi pihak desa yang baru pertama kali melaksanakan pendaftaran badan
hukum. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya peningkatan kapasitas sumber daya
manusia, baik di tingkat desa maupun di tingkat pemerintah kabupaten, untuk
dapat memberikan dukungan dan pendampingan yang lebih efektif. Dengan berbagai
hambatan tersebut, penting bagi pemerintah Kabupaten Blitar untuk terus
meningkatkan program sosialisasi, memberikan pelatihan bagi perangkat desa
mengenai tata cara pendaftaran badan hukum BUMDes, serta memberikan kemudahan
akses dalam hal biaya dan teknologi. Hal ini akan mempermudah desa-desa untuk
memperoleh badan hukum yang sah, sehingga BUMDes dapat beroperasi secara lebih
profesional dan memiliki dasar hukum yang jelas dalam mengelola potensi ekonomi
desa. Berikut ini kondisi eksisiting badan hukum bumdes per 9 April 2025:
|
NO |
KABUPATEN |
KECAMATAN |
DESA |
NAMA BUMDES |
TERVERIFIKASI DOKUMEN |
|||
|
1 |
BLITAR |
WONODADI |
JATEN |
BUM Desa
BANGKIT BERSAMA JATEN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
2 |
BLITAR |
WONODADI |
SALAM |
BUM DESA
SEKAR ARUM SALAM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
3 |
BLITAR |
WONODADI |
REJOSARI |
BUM Desa
Harapan REJOSARI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
4 |
BLITAR |
WONODADI |
KALIBOTO |
BUM Desa
MITRA USAHA KALIBOTO |
TERVERIFIKASI DOKUMEN |
1 |
||
|
5 |
BLITAR |
WONODADI |
WONODADI |
BUM Desa
SEJAHTERA ABADI WONODADI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
6 |
BLITAR |
WONODADI |
TAWANGREJO |
BUM Desa
Mekar Jaya TAWANGREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
7 |
BLITAR |
WONODADI |
KEBONAGUNG |
BUM DESA
MAKMUR SEJAHTERA KEBONAGUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
8 |
BLITAR |
WONODADI |
PIKATAN |
BUM Desa
PANDLEGAN SEJAHTERA PIKATAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
9 |
BLITAR |
WONODADI |
GANDEKAN |
BUM DESA BINA
MULYA GANDEKAN |
|
|
||
|
10 |
BLITAR |
WONODADI |
KUNIR |
BUM DESA
KUNIR JAYA ABADI KUNIR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
11 |
BLITAR |
WONODADI |
KOLOMAYAN
|
BUM DESA
MEKAR JAYA KOLOMAYAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
10 |
||
|
12 |
BLITAR |
UDANAWU |
JATI |
BUM DESA
JATI MULYA JATI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
13 |
BLITAR |
UDANAWU |
TEMENGUNGAN |
BUM DESA
LESTARI TEMENGGUNGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
14 |
BLITAR |
UDANAWU |
BESUKI |
BUM Desa
HIKMAH BESUKI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
15 |
BLITAR |
UDANAWU |
TUNJUNG |
BUM Desa
MEKAR SARI TUNJUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
16 |
BLITAR |
UDANAWU |
BAKUNG |
BUM Desa
LANCAR USAHA BAKUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
17 |
BLITAR |
UDANAWU |
MANGUNAN |
BUM Desa
MANGUN MAKMUR MANGUNAN |
|
|
||
|
18 |
BLITAR |
UDANAWU |
KARANGGONDANG |
BUM Desa
NGUDI MAKMUR KARANGGONDANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
19 |
BLITAR |
UDANAWU |
RINGINANOM |
BUM Desa
MITRA ANOM RINGINANOM |
|
|
||
|
20 |
BLITAR |
UDANAWU |
SUKOREJO |
BUM Desa
Sukorejo Jaya SUKOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
21 |
BLITAR |
UDANAWU |
SLEMANAN |
BUM DESA
HARAPAN MULYA SLEMANAN |
|
|
||
|
22 |
BLITAR |
UDANAWU |
SUMBERSARI |
BUM Desa
SUMBER MAKMUR SUMBERSARI SUMBERSARI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
23 |
BLITAR |
UDANAWU |
BENDOREJO |
BUM Desa
MITRA USAHA BENDOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
9 |
||
|
24 |
BLITAR |
SRENGAT |
KARANGGAYAM |
BUM Desa
AMANAH KARANGGAYAM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
25 |
BLITAR |
SRENGAT |
DERMOJAYAN |
BUM Desa
JAYA MAKMUR DERMOJAYAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
26 |
BLITAR |
SRENGAT |
KERJEN |
BUM Desa
SEJAHTERA KERJEN |
|
|
||
|
27 |
BLITAR |
SRENGAT |
PAKISREJO |
BUM Desa
SIAP BERJAYA PAKISREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
28 |
BLITAR |
SRENGAT |
PURWOKERTO |
BUM Desa
PURWA JAYA PURWOKERTO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
30 |
BLITAR |
SRENGAT |
MARON |
BUM DESA
MAKMUR BAROKAH MARON |
|
|
||
|
31 |
BLITAR |
SRENGAT |
KANDANGAN |
BUM Desa
PODO MAKMUR KANDANGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
32 |
BLITAR |
SRENGAT |
KENDALREJO |
BUM Desa
SUMBER REJEKI KENDALREJO |
|
|
||
|
33 |
BLITAR |
SRENGAT |
SELOKAJANG |
BUM Desa
MAKMUR SELOKAJANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
34 |
BLITAR |
SRENGAT |
NGAGLIK |
BUM Desa
JAYA MAKMUR NGAGLIK |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
35 |
BLITAR |
SRENGAT |
BAGELENAN
|
BUM Desa
Sumber Makmur BAGELENAN |
|
|
||
|
36 |
BLITAR |
SRENGAT |
WONOREJO |
BUMDesa
BAROKAH WONOREJO |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
7 |
||
|
37 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
PANGGUNG
DUWET |
BUM DESA
MITRA SEJATI PANGGUNGDUWET |
|
|
||
|
38 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
MARON |
BUM Desa
Amanah MARON |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
39 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
PAKISAJI |
BUM Desa
KARYA USAHA PAKISAJI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
40 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
KEBONSARI |
BUM Desa
SUMBER REJEKI KEBONSARI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
41 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
BENDOSARI |
BUM Desa
SARI MULYO BENDOSARI |
|
|
||
|
42 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
SUMBERJO |
BUM DESA
ARTHA USAHA SUMBERJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
43 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
SURUHWADANG |
BUM Desa
MITRA USAHA SURUHWADANG |
TERVERIFIKASIDOKUMEN
|
1 |
||
|
44 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
PLUMPUNGREJO |
BUM DESA
ARTHA MULYA PLUMPUNGREJO |
TERVERIFIKASIDOKUMEN
|
1 |
||
|
45 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
JIMBE |
BUM Desa
Gemah Ripah JIMBE |
TERVERIFIKASIDOKUMEN
|
1 |
||
|
46 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
DAWUHAN |
BUM DESA
TUNAS HARAPAN DAWUHAN |
|
|
||
|
47 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
SUMBERJATI |
BUM DESA
JAYA MANDIRI SUMBERJATI |
|
|
||
|
48 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
REJOWINANGUN |
BUM Desa
WINA SEJAHTERA REJOWINANGUN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
49 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
PLOSOREJO |
BUM Desa
BANGUN LESTARI PLOSOREJO |
|
|
||
|
50 |
BLITAR |
KADEMANGAN |
DARUNGAN |
BUM DESA
NGUDI MAKMUR DARUNGAN |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
8 |
||
|
51 |
BLITAR |
BAKUNG |
NGREJO |
BUM DESA
NGUDI MULYO NGREJO |
|
|
||
|
52 |
BLITAR |
BAKUNG |
BULULAWANG |
BUM DESA
BULULAWANG MAKMUR BULULAWANG |
|
|
||
|
53 |
BLITAR |
BAKUNG |
PULEREJO |
BUMDESA
PUJO PULEREJO |
|
|
||
|
54 |
BLITAR |
BAKUNG |
TUMPAKOYOT |
BUMDESA
MEKAR SARI TUMPAKOYOT |
|
|
||
|
55 |
BLITAR |
BAKUNG |
PLANDIREJO |
BUMDESA
MUGI RAHAYU PLANDIREJO |
|
|
||
|
56 |
BLITAR |
BAKUNG |
SUMBERDADI |
BUMDESA
HATA MANDIRI SUMBERDADI |
|
|
||
|
57 |
BLITAR |
BAKUNG |
BAKUNG |
BUMDESA
TRISULA BAKUNG |
|
|
||
|
58 |
BLITAR |
BAKUNG |
KEDUNGBANTENG |
BUMDESA
NGUDI WALOYO KEDUNGBANTENG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
59 |
BLITAR |
BAKUNG |
SIDOMULYO |
BUMDESA
MAKMUR SIDOMULYO |
|
|
||
|
60 |
BLITAR |
BAKUNG |
LOREJO |
BUMDESAMEKAR
ARUM LOREJO |
|
|
||
|
61 |
BLITAR |
BAKUNG |
TUMPAKKEPUH |
BUMDESA
SENAR MASEM TUMPAKKEPUH |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
1 |
||
|
62 |
BLITAR |
PONGGOK |
DADAPLANGU |
BUM Desa
KENANGA DADAPLANGU |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
63 |
BLITAR |
PONGGOK |
LANGON |
BUM Desa
NDORO TEDJO LANGON |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
64 |
BLITAR |
PONGGOK |
GEMBONGAN |
BUM Desa
SETIA USAHA GEMBONGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
65 |
BLITAR |
PONGGOK |
RINGINANYAR |
BUM DESA SEJAHTERA
RINGINANYAR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
66 |
BLITAR |
PONGGOK |
KEBONDUREN |
BUM DESA
MULYO SEJATI KEBONDUREN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
67 |
BLITAR |
PONGGOK |
BACEM |
BUM Desa
SEKAR ARUM BACEM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
68 |
BLITAR |
PONGGOK |
PONGGOK |
BUM Desa
TUNAS MUDA PONGGOK |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
69 |
BLITAR |
PONGGOK |
POJOK |
BUM DESA
SEMANGAT POJOK |
TERVERIVIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
70 |
BLITAR |
PONGGOK |
KAWEDUSAN |
BUM Desa
BUKIT HARAPAN KAWEDUSAN |
TERVERIVIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
71 |
BLITAR |
PONGGOK |
JATILENGGER |
BUM Desa
Jati Mulya JATILENGGER |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
72 |
BLITAR |
PONGGOK |
BENDO |
BUM Desa
PANJI BAROKAH BENDO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
73 |
BLITAR |
PONGGOK |
SIDOREJO |
BUM Desa
SIDO MAKMUR SEJAHTERA SIDOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
74 |
BLITAR |
PONGGOK |
MALIRAN |
BUM Desa
NGUDI MULYO SEJATI MALIRAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
75 |
BLITAR |
PONGGOK |
CANDIREJO |
BUM DESA
JAYA MAKMUR CANDIREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
76 |
BLITAR |
PONGGOK |
KARANGBENDO |
BUM Desa
SUKA MAKMUR KARANGBENDO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
15 |
||
|
77 |
BLITAR |
SANAN KULON |
KALIPUCUNG |
BUM Desa
PUCUNG LOHJINAWI KALIPUCUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
78 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
BENDOSARI |
BUM Desa
MAKMUR ABADI BENDOSARI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
79 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
SUMBER |
BUM Desa
MAJU MAPAN SUMBER |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
80 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
SANANKULON |
BUM DESA
TRI BAKTI SANANKULON |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
81 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
SUMBERINGIN |
BUM Desa
BERINGIN MAKMUR SUMBERINGIN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
82 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
PURWOREJO |
BUM Desa
Nuju Gemilang PURWOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
83 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
BENDOWULUNG |
BUM Desa
SIDO MAKMUR BENDOWULUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
84 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
TULISKRIYO |
BUM Desa
REMBOKO TULISKRIYO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
85 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
SUMBERJO |
BUM DESA
SUMBER REJEKI SUMBERJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
86 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
GLEDUG |
BUM DESA
SIDO AGUNG GLEDUG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
87 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
JEDING |
BUM DESA
MEKAR JAYA JEDING |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
88 |
BLITAR |
SANAN
KULON |
PLOSOARANG |
BUM DESA
SIDO MAKMUR SEJAHTERA PLOSOARANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
12 |
||
|
89 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
PASIRAMAN |
BUM DESA
SUMBER MAKMUR PASIRAMAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
90 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
KALIGRENJENG |
BUM DESA
ARTA SEJAHTERA KALIGRENJENG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
91 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
TAMBAKREJO |
BUM DESA
ARTHO MULYO TAMBAKREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
92 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
SUMBERBOTO |
BUM DESA
MEKAR JAYA SUMBERBOTO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
93 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
GUNUNGGEDE |
BUM DESA
REJEKI MAKMUR GUNUNGGEDE |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
94 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
WONOTIRTO |
BUM DESA
TIRTO ASIH WONOTIRTO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
95 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
NGENI |
BUM Desa
CIPTA KARYA MANDIRI NGENI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
96 |
BLITAR |
WONOTIRTO |
NGADIPURO |
BUM DESA
ESTU MAJU NGADIPURO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
8 |
||
|
97 |
BLITAR |
NGLEGOK |
SUMBERASRI |
UM DESA
BUMI ASRI SEJAHTERA SUMBERASRI |
|
|
||
|
98 |
BLITAR |
NGLEGOK |
KEDAWUNG |
BUM Desa
MULYA ABADI KEDAWUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
99 |
BLITAR |
NGLEGOK |
NGORAN |
BUM DESA
KARYA MANDIRI NGORAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
100 |
BLITAR |
NGLEGOK |
DAYU |
BUM Desa
SUMBER MAKMUR DAYU |
|
|
||
|
101 |
BLITAR |
NGLEGOK |
BANGSRI |
BUM Desa
KEMBANG ASRI BANGSRI |
|
|
||
|
102 |
BLITAR |
NGLEGOK |
KEMLOKO |
BUM Desa
RIZKI ABADI KEMLOKO |
|
|
||
|
103 |
BLITAR |
NGLEGOK |
PENATARAN |
BUM Desa
KARYA ABADI PENATARAN |
|
|
||
|
104 |
BLITAR |
NGLEGOK |
KRENCENG |
BUM Desa
BARIKLANA KRENCENG |
|
|
||
|
105 |
BLITAR |
NGLEGOK |
JIWUT |
BUM Desa
AMANAH JIWUT |
|
|
||
|
106 |
BLITAR |
NGLEGOK |
MODANGAN |
BUM Desa
Sendang Mulyo MODANGAN |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
2 |
||
|
107 |
BLITAR |
KANIGORO |
MINGGIRSARI |
BUM Desa
MAJU MAKMUR MINGGIRSARI MINGGIRSARI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
108 |
BLITAR |
KANIGORO |
JATINOM |
BUM Desa
JAYA LESTARI JATINOM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
109 |
BLITAR |
KANIGORO |
GOGODESO |
BUM DESA
SEJAHTERA ABADI GOGODESO |
|
|
||
|
110 |
BLITAR |
KANIGORO |
GAPRANG |
BUM DESA
MANDIRI GAPRANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
111 |
BLITAR |
KANIGORO |
PAPUNGAN |
BUM Desa
Mujair Berkah Sejahtera PAPUNGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
112 |
BLITAR |
KANIGORO |
TLOGO |
BUM DESA
TLOGOWIJOYO TLOGO |
TERVERIFIKSASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
113 |
BLITAR |
KANIGORO |
KARANGSONO |
BUM DESA
KRESI KARANGSONO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
114 |
BLITAR |
KANIGORO |
BANGGLE |
BUM Desa
SURAYA BANGGLE |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
115 |
BLITAR |
KANIGORO |
SAWENTAR |
BUM DESA
SEJAHTERA BERSAMA SAWENTAR |
|
|
||
|
116 |
BLITAR |
KANIGORO |
KUNINGAN |
BUM Desa
SRIKANDI KUNINGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
8 |
||
|
116 |
BLITAR |
GARUM |
POJOK |
BUM Desa
KARYA BAKTI POJOK |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
117 |
BLITAR |
GARUM |
TINGAL |
BUM Desa
MEKAR JAYA TINGAL |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
118 |
BLITAR |
GARUM |
SLOROK |
BUM Desa
KARYA MADANI SEJAHTERA SLOROK |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
119 |
BLITAR |
GARUM |
SIDODADI |
BUM Desa
SIDODADI BERTAJI SIDODADI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
120 |
BLITAR |
GARUM |
KARANGREJO |
BUM Desa
NGUDI LESTARI KARANGREJO KARANGREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
5 |
||
|
121 |
BLITAR |
SUTOJAYAN |
PANDABARUM |
BUM DESA
ARUM JAYA PANDANARUM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
122 |
BLITAR |
SUTOJAYAN |
BACEM |
BUM Desa
Berkah bumi hijau BACEM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
123 |
BLITAR |
SUTOJAYAN |
SUMBERJO |
BUM Desa
SUMBER MAKMUR BAROKAH SUMBERJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
124 |
BLITAR |
SUTOJAYAN |
KAULON |
BUM Desa
WIGUTI KAULON |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
4 |
||
|
125 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
SERANG |
BUM DESA
BINA USAHA MANDIRI SERANG |
|
|
||
|
126 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
KALITENGAH |
BUM DESA
LEMBU GUMARANG KALITENGAH |
|
|
||
|
127 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
MARGOMULYO |
BUM DESA
MITRA SEJATI MARGOMULYO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
128 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
PANGGUNGREJO |
BUM DESA
USAHA JAYA PANGGUNGREJO |
|
|
||
|
129 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
SUMBERSIH |
BUM DESA
BUMI PERTIWI SUMBERSIH |
|
|
||
|
130 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
KALIGAMBIR |
BUM DESA
ARTA AGUNG KALIGAMBIR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
131 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
BUMIAYU |
BUM DESA
BUMIAYU BUMIAYU |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
132 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
PANGGUNG
ASRI |
|
|
|
||
|
133 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
SUMBERAGUNG |
BUM DESA
LEMBU AGUNG SUMBERAGUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
134 |
BLITAR |
PANGGUNG
REJO |
BALEREJO |
BUM DESA
ARTHA AGUNG BALEREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
5 |
||
|
135 |
BLITAR |
TALUN |
TUMPANG |
BUM DESA
SELO ANGON TUMPANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
136 |
BLITAR |
TALUN |
KENDALREJO |
BUM DESA
LANCAR BERKAH KENDALREJO |
|
|
||
|
137 |
BLITAR |
TALUN |
PASIRHARJO |
BUM DESA
JAYA ABADI PASIRHARJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
138 |
BLITAR |
TALUN |
JEBLOG |
BUM DESA
TARUNA BHAKTI JEBLOG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
139 |
BLITAR |
TALUN |
JABUNG |
BUM DESA
MULYO BAROKAH JABUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
140 |
BLITAR |
TALUN |
BENDOSEWU |
BUM DESA
SEWU SIJI BENDOSEWU |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
141 |
BLITAR |
TALUN |
WONOREJO |
BUM DESA
KARYA BAKTI WONOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
142 |
BLITAR |
TALUN |
DUREN |
BUM DESA
LANGGENG DUREN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
143 |
BLITAR |
TALUN |
SRAGI |
BUM DESA
USAHA BARU SRAGI |
|
|
||
|
144 |
BLITAR |
TALUN |
JAJAR |
BUM DESA
SUMBER REJEKI JAJAR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
8 |
||
|
145 |
BLITAR |
GANDUSARI |
SUMBERAGUNG |
BUM Desa
SUMBER AGUNG SUMBERAGUNG |
|
|
||
|
146 |
BLITAR |
GANDUSARI |
GADUNGAN |
BUM Desa
MULYA ABADI GADUNGAN GADUNGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
147 |
BLITAR |
GANDUSARI |
KOTES |
BUM DESA
MANUNGGAL ABADI KOTES |
|
|
||
|
148 |
BLITAR |
GANDUSARI |
SUKOSEWU |
BUM Desa
Mulya Bhakti SUKOSEWU |
|
|
||
|
149 |
BLITAR |
GANDUSARI |
GONDANG |
BUM Desa
GONDANG MAKMUR GONDANG |
|
|
||
|
150 |
BLITAR |
GANDUSARI |
TAMBAKAN |
BUM Desa
MEKAR SARI TAMBAKAN |
|
|
||
|
151 |
BLITAR |
GANDUSARI |
GANDUSARI |
BUM DESA
DUTA MULYA GANDUSARI |
|
|
||
|
152 |
BLITAR |
GANDUSARI |
BUTUN |
BUM DESA
RUKUN SANTOSO BUTUN |
|
|
||
|
153 |
BLITAR |
GANDUSARI |
NGARINGAN |
BUM Desa
JOYO MUKTI NGARINGAN |
|
|
||
|
154 |
BLITAR |
GANDUSARI |
SOSO |
BUM Desa
mitra mandiri makmur SOSO |
|
|
||
|
155 |
BLITAR |
GANDUSARI |
SLUMBUNG |
BUM Desa
SUKA MAJU SLUMBUNG |
|
|
||
|
156 |
BLITAR |
GANDUSARI |
SEMEN |
BUM DESA
PUSPA JAGAD SEMEN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
157 |
BLITAR |
GANDUSARI |
TULUNGREJO |
BUM Desa
BUMI ARUM TULUNGREJO |
|
|
||
|
158 |
BLITAR |
GANDUSARI |
KRISIK |
BUM Desa
Sumber Makmur KRISIK |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
2 |
||
|
159 |
BLITAR |
BINANGUN |
KEDUNGWUNGU |
BUM Desa
PASOPATI KEDUNGWUNGU |
|
|
||
|
160 |
BLITAR |
BINANGUN |
SALAMREJO |
BUM Desa
BUDIDAYA MAKMUR SALAMREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
161 |
BLITAR |
BINANGUN |
SUMBERKEMBAR |
BUM Desa
SUMBER REJEKI SUMBERKEMBAR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
162 |
BLITAR |
BINANGUN |
BINANGUN |
BUM Desa
ARTHA UTAMA BINANGUN |
|
|
||
|
163 |
BLITAR |
BINANGUN |
REJOSO |
BUM Desa
JASA MULYA REJOSO |
|
|
||
|
164 |
BLITAR |
BINANGUN |
NGEMBUL |
BUM Desa
AJISOKO NGEMBUL |
|
|
||
|
165 |
BLITAR |
BINANGUN |
SAMBIGEDE |
BUM Desa
BERKAH SALIMA SAMBIGEDE |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
166 |
BLITAR |
BINANGUN |
TAWANGREJO |
BUM Desa
MITRA USAHA TAWANGREJO |
|
|
||
|
167 |
BLITAR |
BINANGUN |
UMBULDAMAR |
BUM Desa
DAMAR JATIM UMBULDAMAR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
168 |
BLITAR |
BINANGUN |
NGADRI |
BUM Desa
Gajah Mada NGADRI |
|
|
||
|
169 |
BLITAR |
BINANGUN |
BIROWO |
BUM Desa
BHIROWO SAKTI BIROWO |
|
|
||
|
170 |
BLITAR |
BINANGUN |
SUKORAME |
BUM DESA
MARGO MULYO SUKORAME |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
4 |
||
|
171 |
BLITAR |
WLINGI |
TEMBALANG |
BUM Desa
SEJAHTERA TEMBALANG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
172 |
BLITAR |
WLINGI |
NGADIRENGGO |
BUM Desa Ngudi
Makmur NGADIRENGGO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
173 |
BLITAR |
WLINGI |
TEGAL
ASRI |
BUM Desa
Gabru Asri TEGALASRI |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
174 |
BLITAR |
WLINGI |
BALEREJO |
BUM DESA
ARTHA MULIA BALEREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
4 |
||
|
175 |
BLITAR |
DOKO |
SLOROK |
BUM Desa
Mekar Jaya SLOROK |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
176 |
BLITAR |
DOKO |
SURU |
BUM Desa
Mekar Sari SURU |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
177 |
BLITAR |
DOKO |
PLUMBANGAN |
BUM DESA
NGUDI LESTARI PLUMBANGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
178 |
BLITAR |
DOKO |
SUMBERURIP |
BUM Desa Sumber
Mulyo SUMBERURIP |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
179 |
BLITAR |
DOKO |
GENENGAN |
BUM Desa
Mitra Karya Desa GENENGAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
180 |
BLITAR |
DOKO |
DOKO |
BUM Desa
Sumber Makmur DOKO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
181 |
BLITAR |
DOKO |
JAMBEPAWON |
BUM Desa LANGGENG
JAMBEPAWON |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
182 |
BLITAR |
DOKO |
SIDOREJO |
BUM Desa
SIDO MAJU SIDOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
183 |
BLITAR |
DOKO |
RESAPOMBO |
BUM Desa
KRIDO SEMBODO RESAPOMBO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
184 |
BLITAR |
DOKO |
KALIMANIS |
BUM Desa
Kawi Makmur KALIMANIS |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
10 |
||
|
185 |
BLITAR |
KESAMBEN |
SIRAMAN |
BUM Desa
Citra Mandiri SIRAMAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
186 |
BLITAR |
KESAMBEN |
KESAMBEN |
BUM Desa
SLUMBUNG KESAMBEN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
187 |
BLITAR |
KESAMBEN |
JUGO |
BUM Desa
SERBA USAHA JUGO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
188 |
BLITAR |
KESAMBEN |
PAGERWOJO |
BUM Desa
Panggung Lestari PAGERWOJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
189 |
BLITAR |
KESAMBEN |
PAGERGUNUNG |
BUM Desa
Gunung Lestari PAGERGUNUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
190 |
BLITAR |
KESAMBEN |
TEPAS |
BUM Desa
usaha makmur tepas TEPAS |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
191 |
BLITAR |
KESAMBEN |
KEMIRIGEDE |
BUM Desa
SEJAHTERA KEMIRIGEDE |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
192 |
BLITAR |
KESAMBEN |
TAPAKREJO |
BUM Desa
BERKAH ABADI TAPAKREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
193 |
BLITAR |
KESAMBEN |
BUMIREJO |
BUM Desa
WAHANA SEJAHTERA BUMIREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
194 |
BLITAR |
KESAMBEN |
SUKOANYAR |
BUM Desa
LESTARI SUKOANYAR |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
10 |
||
|
195 |
BLITAR |
WATES |
PURWOREJO |
BUM DESA
CITRA MANDIRI PURWOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
196 |
BLITAR |
WATES |
TULUNGREJO |
BUM DESA
SANGKARA SOKYA TULUNGREJO |
|
|
||
|
197 |
BLITAR |
WATES |
SUMBERARUM |
BUM Desa
SEKAR ARUM SUMBERARUM |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
198 |
BLITAR |
WATES |
RINGINREJO |
BUM DESA
REJO MAKMUR RINGINREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
199 |
BLITAR |
WATES |
MOJOREJO |
BUM Desa
MITRA ABADI MOJOREJO |
|
|
||
|
200 |
BLITAR |
WATES |
SUKOREJO |
BUM Desa
GIRI KENCANA SUKOREJO |
|
|
||
|
201 |
BLITAR |
WATES |
WATES |
BUM DESA
SEJAHTERA BERSAMA WATES |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
202 |
BLITAR |
WATES |
TUGUREJO |
BUM DESA
SATU HATI TUGUREJO |
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
4 |
||
|
203 |
BLITAR |
SELOREJO |
BANJARSARI |
BUM DESA
ARTO MULYO BANJARSARI |
|
|
||
|
204 |
BLITAR |
SELOREJO |
POHGAJIH |
BUM DESA
DARMA PRANATA PRAJA POHGAJIH |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
205 |
BLITAR |
SELOREJO |
SELOREJO |
BUM Desa
NUJU MANDIRI SELOREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
206 |
BLITAR |
SELOREJO |
SUMBERAGUNG |
BUM DESA
AGUNG LESTARI SUMBERAGUNG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
207 |
BLITAR |
SELOREJO |
NGRENDENG |
BUM DESA
RUKUN MAKMUR NGRENDENG |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
208 |
BLITAR |
SELOREJO |
SIDOMULYO |
BUM DESA
SARIMULYOREJO SIDOMULYO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
209 |
BLITAR |
SELOREJO |
AMPELGADING |
BUM DESA
LANGGENG AMPELGADING |
|
|
||
|
210 |
BLITAR |
SELOREJO |
OLAK
ALEN |
BUM DESA
BAROKAH ABADI OLAK ALEN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
211 |
BLITAR |
SELOREJO |
BORO |
BUM DESA
PRIMA JASA BORO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
212 |
BLITAR |
SELOREJO |
NGRECO |
BUM DESA
RECO MULYA ABADI NGRECO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
8 |
||
|
213 |
BLITAR |
SELOPURO |
MANDESAN |
BUM Desa
KARYA MANDIRI MANDESAN |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
214 |
BLITAR |
SELOPURO |
JATITENGAH |
BUM Desa
Djati Makmoer JATITENGAH |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
215 |
BLITAR |
SELOPURO |
JAMBEWANGI |
BUM Desa
MEKAR SARI JAMBEWANGI |
|
|
||
|
216 |
BLITAR |
SELOPURO |
SELOPURO |
BUM Desa
Selopuro Makmur SELOPURO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
217 |
BLITAR |
SELOPURO |
TEGALREJO |
BUM DESA
TUNAS BAROKAH TEGALREJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
218 |
BLITAR |
SELOPURO |
PLOSO |
BUM Desa
ABADI SEJAHTERA PLOSO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
219 |
BLITAR |
SELOPURO |
POPOH |
BUM Desa
Mekar Jaya POPOH |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
220 |
BLITAR |
SELOPURO |
MRONJO |
BUM Desa
MAKMUR SEJAHTERA MRONJO |
TERVERIFIKASI
DOKUMEN |
1 |
||
|
|
|
|
|
|
|
7 |
||
|
JUMLAH |
|
151 |
||||||
|
||||||||
Lampiran
2. Data Eksisting Bumdesma Berbadan Hukum 
Comments
Post a Comment