Inovasi
Dekomposer Rumen Sapi sebagai Strategi Kedaulatan Pangan Petani di Kabupaten
Blitar
ABSTRAK
Penelitian ini mengangkat inovasi lokal berbasis pemanfaatan rumen sapi sebagai
bahan utama dekomposer untuk mendukung kedaulatan pangan petani di Kabupaten
Blitar. Dalam kondisi ketergantungan petani terhadap input pertanian eksternal
seperti pupuk kimia, dekomposer ini menawarkan solusi organik yang murah,
efektif, dan berbasis sumber daya lokal. Penelitian menggunakan pendekatan
partisipatif dan fermentasi tertutup, serta validasi dilakukan melalui uji
laboratorium dan aplikasi lapangan. Hasil menunjukkan peningkatan tinggi
tanaman sebesar 21% dan bobot panen sebesar 18% dibandingkan penggunaan pupuk
kimia. Dekomposer ini juga terbukti mengandung mikroorganisme aktif seperti
Bacillus, Lactobacillus, dan Nitrosomonas yang menunjang kesuburan tanah. Implikasi
penelitian ini menunjukkan pentingnya transformasi paradigma menuju pertanian
berkelanjutan berbasis komunitas dan kearifan lokal.
Inovasi Dekomposer Rumen Sapi Untuk Kedaulatan Pangan Petani di
Kabupaten Blitar
A. Pendahuluan
Di balik hamparan sawah hijau yang membentang luas dan tanah subur
yang diwariskan oleh letusan gunung berapi purba di Kabupaten Blitar, tersimpan
sebuah realitas yang menggelitik kesadaran: petani yang sejatinya hidup dari
kekayaan alam justru terkunci dalam ketergantungan yang menyakitkan. Mereka
menanam di tanah yang diberkahi, namun tidak berdaulat atas hasil panennya
sendiri. Mereka menggantungkan harapan pada langit, namun memikul beban berat
dari bumi yang diatur oleh sistem luar. Ironi ini tidak hanya mencerminkan
kerentanan sistem pangan kita, tetapi juga mempertanyakan kembali makna sejati
dari kemandirian desa (Topatimasang, 2008).
Ketika pupuk yang mereka tabur harus dibeli dari luar, benih yang
mereka semai harus dipesan dari pabrik, dan alat yang mereka gunakan hanya bisa
didapat dengan harga tinggi dari pasar kota, maka pertanian tidak lagi menjadi
bagian dari budaya yang membebaskan. Sebaliknya, ia berubah menjadi rantai
pasokan yang mengikat, menjadikan petani hanya sebagai mata rantai paling lemah
dari sistem pertanian industri. Kondisi ini sejalan dengan analisis Patel
(2009) yang menyatakan bahwa petani telah dipaksa menjadi konsumen dari sistem
pangan global yang tidak mereka kuasai, yang digerakkan oleh logika kapital dan
korporasi.
Kondisi ini diperparah oleh absennya intervensi negara yang
berpihak pada petani kecil. Meskipun pemerintah menyediakan subsidi, kenyataan
di lapangan sering kali berbeda. Kelangkaan pupuk bersubsidi, tidak meratanya
distribusi, serta praktik penimbunan oleh pihak-pihak tertentu, menyebabkan
para petani kembali membeli pupuk dengan harga tinggi atau bahkan menunda masa
tanam. Ini adalah siklus ketergantungan yang menciptakan bentuk kemiskinan
struktural yang berulang, sebagaimana diuraikan oleh Wahyuni (2018) dalam studi
tentang lemahnya kelembagaan petani desa.
Apa yang terjadi di Blitar sesungguhnya mencerminkan gejala yang
lebih luas: hilangnya kedaulatan pangan di negeri yang seharusnya bisa
swasembada. Bung Hatta pernah menyatakan bahwa bangsa yang merdeka adalah
bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, dan tidak bergantung
pada bangsa lain untuk hidup (dalam Topatimasang, 2008). Dalam konteks
pertanian, kedaulatan pangan bukan hanya soal kecukupan komoditas, tetapi juga
tentang siapa yang mengontrol sumber daya produksinya benih, pupuk, tanah, dan
air. Jika semua itu dikuasai pihak luar, maka kemerdekaan hanyalah ilusi.
Lebih jauh, ketergantungan ini juga menimbulkan dampak psikologis
dan sosial yang tidak kecil. Petani merasa kehilangan martabatnya karena tidak
lagi menjadi pengatur atas hidupnya sendiri. Mereka menjadi resah, kehilangan
semangat, dan enggan mewariskan profesi ini kepada anak-anak mereka. Penelitian
Nugroho (2010) menunjukkan bahwa kemiskinan petani bukan hanya karena kurangnya
pendapatan, tetapi karena hilangnya kendali atas alat produksi dan kehilangan
status sosial yang selama ini melekat pada petani sebagai penjaga pangan
bangsa.
Namun semua belum terlambat. Di tengah tekanan sistemik yang
menghimpit, masih ada ruang untuk bergerak, untuk kembali meneguhkan pijakan di
atas tanah sendiri. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali
prinsip-prinsip kemandirian desa dan mengembangkan inovasi lokal seperti
pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Altieri dan
Nicholls (2008) menjelaskan bahwa pendekatan agroekologi berbasis lokal tidak
hanya mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, tetapi juga
memperkuat identitas sosial dan budaya petani terhadap lahannya sendiri.
Akhirnya, cerita petani di Blitar adalah cermin bagi kita
semua—tentang pentingnya melihat pertanian bukan sekadar sebagai sektor
ekonomi, tetapi sebagai fondasi kebudayaan dan jati diri bangsa. Kedaulatan
pangan bukanlah mimpi yang utopis, melainkan keniscayaan yang harus
diperjuangkan. Dan perjuangan itu harus dimulai dari kesadaran bahwa tanah yang
subur tidak akan membawa kemakmuran jika tidak dikelola secara berdaulat oleh
mereka yang menginjakkan kakinya di sana setiap hari (George, 2007).
Untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian, pemerintah
Indonesia telah menjalankan program subsidi pupuk sebagai bentuk intervensi
strategis. Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk memastikan ketersediaan dan
keterjangkauan pupuk bagi petani, sekaligus mendorong peningkatan hasil
pertanian. Dalam praktiknya, subsidi difokuskan pada jenis-jenis pupuk seperti
SP-36, NPK, dan ZA, dengan harapan petani dapat menerapkannya secara tepat
waktu, tepat jenis, dan tepat dosis (Kementerian Pertanian, 2022).
Namun, tantangan muncul ketika terjadi kenaikan drastis harga pupuk
non-subsidi di pasar global. Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa kenaikan
ini disebabkan oleh lonjakan harga bahan baku seperti amonia, phosphate rock,
KCl, serta krisis energi di Eropa dan gangguan rantai pasok akibat pandemi
COVID-19. Beberapa negara juga menghentikan ekspor bahan baku pupuk,
memperburuk krisis ini. Akibatnya, pupuk bersubsidi yang terbatas hanya
diperuntukkan bagi usaha pertanian rakyat, seperti petani pangan, peternak, dan
pekebun skala kecil (FAO, 2022).
Ketergantungan yang semakin dalam terhadap pupuk anorganik
menimbulkan konsekuensi jangka panjang, terutama pada ketahanan pertanian desa.
Petani cenderung memilih pupuk kimia karena hasilnya terukur dan penggunaannya
praktis, namun di balik itu tersembunyi kerentanan besar. Ketika pasokan pupuk
terganggu, produktivitas pun menurun drastis (Altieri & Nicholls, 2008).
Ketergantungan ini menciptakan siklus yang memperlemah kemandirian petani
terhadap sumber dayanya sendiri. Dalam konteks kelangkaan pupuk, ini justru
menjadi momentum penting untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih
berkelanjutan. Pupuk organik menjadi alternatif rasional dan strategis. Selain
mengurangi ketergantungan pada industri besar, pupuk organik juga memperbaiki
struktur tanah dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem pertanian desa. Sumber
bahan organik di wilayah perdesaan sebenarnya sangat melimpah, mulai dari
limbah ternak, limbah pertanian, hingga sisa dapur rumah tangga (Hidayat et
al., 2023). Kemandirian petani dalam memproduksi pupuk organik bukan hanya
solusi teknis, tetapi juga langkah besar menuju transformasi sosial.
Sayangnya, keterampilan membuat pupuk hayati yang dulunya menjadi
bagian dari kearifan lokal kini hampir punah. Hal ini disebabkan oleh dominasi
pengetahuan teknis dari luar yang dianggap lebih “modern”, serta hilangnya
budaya agraris yang berbasis siklus dan regeneratif. Ketika petani tak lagi
tahu membuat pupuknya sendiri, maka hilanglah satu bagian penting dari ilmu
rakyat yang diwariskan turun-temurun (Topatimasang, 2008).
Berdasarkan pengalaman panjang dalam mendampingi petani desa,
muncul sebuah inovasi yang cukup revolusioner namun berbasis lokal: pembuatan
dekomposer dari rumen sapi. Inovasi ini berangkat dari pemanfaatan limbah rumah
potong hewan yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Dekomposer ini tidak
hanya berfungsi sebagai starter dalam produksi pupuk organik, tetapi juga
memiliki manfaat luas lainnya seperti pembenah tanah, peningkat bobot ternak,
hingga mempercepat pertumbuhan ikan air tawar (Mulyadi, 2022). Kandungan
bakteri baik di dalam rumen, seperti Bacillus, Lactobacillus, dan Nitrosomonas,
memberikan efek biologis yang positif terhadap proses fermentasi dan
pertumbuhan tanaman. Lebih dari sekadar manfaat agronomis, inovasi dekomposer
ini juga menyentuh nilai budaya. Penggunaan limbah sapi, yang dikenal dengan
istilah “Rojo Koyo”, memiliki makna simbolik bagi masyarakat petani. Ia bukan
hanya alat bantu pertanian, tapi juga pengingat bahwa kemakmuran bisa diraih
jika petani mampu mengelola seluruh potensi pertanian secara terpadu. Integrasi
antara ternak, tanaman, dan siklus produksi pangan menjadikan pertanian sebagai
ekosistem yang berkelanjutan dan saling menguatkan (Altieri, 1995).
B. Inovasi Dokomposer Rumen Sapi
Rumen sapi ternyata menyimpan potensi besar dalam bidang
bioteknologi pertanian, khususnya melalui peran mikroorganisme yang hidup di
dalamnya. Berbagai spesies bakteri selulolitik aerob ditemukan di cairan rumen
sapi, seperti Nitrosomonas, Bacillus, Cellulomonas, Cytophaga, Acidothermus, Lactobacillus,
dan Cellvibrio (Anindyawati, 2010). Kehadiran mikroba-mikroba ini menjadi dasar
kuat dalam merumuskan konsep fermentasi tertutup pada dekomposer rumen sapi.
Fermentasi ini dirancang secara aerob menggunakan aerator agar bakteri baik
tetap aktif dan tidak tereduksi selama proses berlangsung, yang kemudian
menghasilkan pupuk hayati dengan efektivitas biologis tinggi.
Salah satu mikroba kunci dalam rumen adalah Nitrosomonas, yang
memainkan peran penting dalam proses nitrifikasi dengan menghasilkan ion nitrat
yang sangat dibutuhkan tanaman. Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 5–30°C dan
pH antara 5,8–8,5, serta mampu beradaptasi di air laut, air tawar, dan tanah
(Alexander, 1977). Selain itu, genus Bacillus dikenal sebagai Plant Growth
Promoting Rhizobacteria (PGPR) karena kemampuannya dalam memfiksasi nitrogen,
melarutkan fosfat, dan mensintesis hormon tumbuh IAA (Indole-3-Acetic Acid),
yang semuanya berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan dan produktivitas
tanaman (Anindyawati, 2009).
Tak kalah penting adalah Cellulomonas, bakteri selulolitik yang
memiliki aktivitas tinggi dalam menguraikan selulosa menjadi gula sederhana.
Dalam kondisi aerobik, bakteri ini mengubah selulosa menjadi CO₂ dan air,
sementara dalam kondisi anaerob menghasilkan CO₂, metana, dan air (Levin et
al., 2008). Kemampuan ini membuat Cellulomonas relevan dalam meningkatkan
kualitas pupuk organik dan potensi produksi biogas dari limbah pertanian.
Kelompok bakteri lain seperti Cytophaga, Flavobacterium, dan Flexibacter juga
terkenal karena kemampuannya mendekomposisi makromolekul organik, terutama
selulosa, dan menghasilkan asetat serta suksinat sebagai hasil fermentasi
(Enrari, 1983).
Selain bakteri, rumen sapi juga menjadi habitat bagi jamur
penghasil enzim selulase, salah satunya Aspergillus terreus. Jamur ini memecah
polisakarida menjadi glukosa yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan
reproduksi mikroba serta ternak (Bechara, 2006). Dalam pakan ternak yang tinggi
serat kasar, seperti jerami atau rumput kering, keberadaan Acidothermus
cellulolyticus sangat penting karena bakteri ini mampu mengkatalisis pemutusan
ikatan β-1,4-glukosida dalam selulosa, apalagi ketika bekerja secara sinergis
dengan jamur seperti Trichoderma reesei (Mohagheghi et al., 1986; Baker et al.,
1994).
Dalam upaya fermentasi organik berbasis desa, bekatul hadir sebagai
bahan pelengkap yang sangat fungsional. Kandungan karbohidrat dan protein
nabatinya menjadikan bekatul sumber energi ideal bagi bakteri pengurai. Selain
meningkatkan kualitas pupuk, bekatul juga memiliki efek sebagai herbisida
nabati pada lahan pertanian, yang mampu menekan pertumbuhan gulma dan
meningkatkan hasil panen setara dengan penyiangan manual (UGM Repository,
2012). Bekatul secara tidak langsung memperkuat ekosistem mikroba dalam proses
pengomposan sekaligus meningkatkan daya dukung pertanian terhadap tekanan input
kimia dari luar.
Dengan semua potensi tersebut, pemanfaatan rumen sapi dan bekatul
dalam dekomposer bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga bentuk perlawanan
lembut terhadap ketergantungan petani desa terhadap sistem industri besar. Ia
adalah upaya membangun kembali kemandirian agrikultur dari bawah, melalui apa
yang disebut kearifan lokal berbasis bioteknologi alami.
Air kelapa, yang sering kali terbuang sebagai limbah, sebenarnya
menyimpan potensi besar dalam dunia pertanian organik. Sebagaimana dijelaskan
oleh Kementerian Pertanian melalui laman Cybex (2023), air kelapa mengandung
beragam nutrisi penting seperti karbohidrat, gula, mineral, dan asam amino,
yang menjadikannya bahan ideal untuk pupuk organik cair (POC). Penggunaannya
tidak hanya aman bagi manusia dan lingkungan, tetapi juga mampu memperbaiki
struktur tanah, meningkatkan kelembapan dan aerasi, serta mendukung aktivitas
mikroorganisme yang penting bagi kesuburan tanah. Sayangnya, pemanfaatan air
kelapa masih belum maksimal, padahal potensi ekologis dan ekonomisnya sangat
tinggi, khususnya di wilayah agraris seperti Kabupaten Blitar.
Selain air kelapa, bahan lokal lain seperti batang pisang juga
menjadi komponen penting dalam pembuatan dekomposer karena kandungan nitrogen
alaminya yang tinggi. Nitrogen ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan
vegetatif tanaman, seperti daun dan batang, serta mendukung proses
fotosintesis. Pemanfaatan batang pisang tidak hanya memperkuat kesuburan tanah,
tetapi juga mempercepat regenerasi mikroorganisme tanah yang mendukung
ekosistem pertanian alami.
Air cucian beras, meskipun tampak sepele, ternyata mengandung unsur
hara esensial seperti vitamin, mineral, dan karbohidrat. Menurut Popmama
(2023), air cucian beras dapat mempercepat pembentukan akar, memperbanyak daun,
dan mendorong proses pembungaan serta pembuahan. Sifatnya yang menghambat
pertumbuhan patogen juga menjadikannya agen alami yang memperkuat sistem
pertahanan tanaman terhadap penyakit.
Terasi pun memiliki fungsi luar biasa sebagai agen dekomposer
karena kandungan mikroba fermentatif yang tinggi. Kehadirannya mempercepat
proses pelapukan bahan organik dan memperbaiki struktur tanah secara biologis.
Hal serupa juga berlaku pada tetes tebu (molase), yang dikenal sebagai sumber
energi cepat bagi mikroorganisme. Molase merangsang pertumbuhan populasi
bakteri dan jamur menguntungkan, mempercepat proses fermentasi, dan
meningkatkan kualitas pupuk.
Komponen lain seperti susu sapi mentah mengandung kalsium, vitamin
B, dan protein yang penting untuk pertumbuhan tanaman dan mendukung kehidupan
mikroba tanah. Kalsium, sebagai salah satu unsur hara sekunder, berperan dalam
pembentukan dinding sel tanaman dan memperkuat jaringan tanaman agar lebih
tahan terhadap serangan penyakit. Kombinasi antara susu dan bahan lain dalam
dekomposer menghasilkan sinergi nutrisi yang tidak hanya menyuburkan tetapi
juga menyehatkan ekosistem tanah.
Ragi tape, yang mengandung mikroba Saccharomyces cerevisiae,
terbukti mempercepat proses degradasi bahan organik menjadi senyawa sederhana
yang mudah diserap tanaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Hidayati (2011),
mikroba ini bekerja sebagai aktivator dalam proses fermentasi, meningkatkan
efektivitas dekomposer dan memperpendek waktu dekomposisi.
Sementara itu, buah-buahan busuk yang selama ini dianggap sampah
ternyata dapat dikonversi menjadi pupuk cair berkualitas tinggi. Kaya akan gula
dan nutrisi alami, buah busuk mendukung aktivitas mikroba baik dan meningkatkan
kadar unsur hara pada pupuk yang dihasilkan. Praktik ini mendukung prinsip zero
waste dan memaksimalkan siklus organik di lingkungan pertanian.
Dalam praktiknya, penulis telah melakukan pendampingan langsung
kepada petani di Kabupaten Blitar, mulai dari pelatihan pembuatan dekomposer
hingga aplikasi lapangan. Meski demikian, tantangan terbesarnya bukan hanya
pada teknis produksi, melainkan pada cara pandang petani itu sendiri. Sikap
instan dan pragmatis telah mengakar kuat dalam budaya bertani, sehingga
perubahan menuju kemandirian dan kedaulatan sering terhambat oleh keengganan
untuk meninggalkan pola lama. Transformasi pola pikir inilah yang menjadi
pekerjaan rumah terbesar dalam proses pendampingan.
Pada setiap pertemuan, selalu ditegaskan bahwa tujuan utama dari
pembuatan dekomposer ini adalah untuk memutus ketergantungan petani pada pupuk
kimia, menekan biaya produksi, dan mempercepat proses pemulihan kesuburan tanah
secara alami. Dekomposer tidak hanya berguna sebagai pupuk, tetapi juga
memiliki aplikasi ganda untuk pengemukan ternak dan percepatan pertumbuhan ikan
dalam sektor perikanan. Hal ini menjadikannya sebagai solusi holistik dan
berdaya guna tinggi untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan dari desa.
Dengan memanfaatkan kekayaan lokal seperti air kelapa, batang
pisang, air beras, molase, susu, ragi tape, dan buah busuk, petani diajak untuk
kembali berdaulat atas tanah dan hasil taninya. Gerakan ini bukan sekadar upaya
teknis, melainkan gerakan kebudayaan yang menghidupkan kembali semangat gotong
royong, keberlanjutan, dan kemandirian pilar penting dalam membangun masa depan
pertanian yang adil, sehat, dan berkelanjutan.
C. Data Pertanian Kabupaten Blitar
Gambar 1. Keluarga Petani Kabupaten Blitar 2023
Gambar distribusi rumah tangga petani per kecamatan tahun 2023 di
Kabupaten Blitar menunjukkan potret menarik mengenai peta kekuatan sektor
pertanian di wilayah ini. Kecamatan Ponggok menempati posisi teratas dengan
kontribusi sebesar 9,5% dari total rumah tangga petani, menjadikannya sebagai
salah satu sentra agraris yang paling dominan. Hal ini mencerminkan luasnya
lahan pertanian dan tingginya partisipasi masyarakat dalam aktivitas agrikultur
di wilayah tersebut. Selain Ponggok, kecamatan Kademangan dan Gandusari juga
menunjukkan kontribusi yang besar, masing-masing 6,7% dan 6,6%, memperkuat
gambaran bahwa kedua daerah ini memiliki basis pertanian yang aktif dan
produktif.
Sementara itu, beberapa kecamatan lain berada pada kategori
kontribusi menengah, seperti Nglegok (5,6%), Srengat (5,7%), Panggungrejo
(5,2%), dan Wates (5,1%). Walaupun tidak sebesar kecamatan unggulan, peran
wilayah-wilayah ini tetap signifikan dalam menopang sistem pertanian kabupaten,
khususnya dalam produksi pangan dan distribusi komoditas lokal. Kontribusi
mereka menandakan adanya infrastruktur dan kegiatan pertanian yang tetap
berjalan dan perlu terus didukung pengembangannya.
Di sisi lain, sejumlah kecamatan tercatat memiliki kontribusi yang
lebih rendah terhadap total rumah tangga petani, seperti Sanankulon, Selorejo,
dan Wlingi yang masing-masing hanya menyumbang 2,9%. Kecamatan Selopuro dan
Wonotirto juga tercatat berada di bawah angka 4%. Kondisi ini dapat disebabkan
oleh berbagai faktor seperti keterbatasan lahan pertanian, konversi lahan ke
sektor non-pertanian, atau berkurangnya minat masyarakat untuk bertani karena
tekanan ekonomi dan perubahan sosial.
Meski terdapat variasi proporsi, secara keseluruhan distribusi
rumah tangga petani di Kabupaten Blitar terbilang cukup merata. Hampir seluruh
kecamatan masih memiliki basis rumah tangga yang menggantungkan hidup dari
sektor pertanian. Fakta ini menunjukkan bahwa pertanian tetap menjadi tulang
punggung ekonomi desa dan menjadi bagian penting dalam struktur sosial-ekonomi
masyarakat Blitar. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan pertanian yang
inklusif dan berbasis wilayah sangat diperlukan agar semua kecamatan, baik yang
kontribusinya besar maupun kecil, dapat berkembang secara seimbang dan
berkelanjutan.
Gambar 2. Alokasi Pupuk Bersubsidi Kabupaten Blitar 2019-2022
Data dari Portal Data Kabupaten Blitar 2025 menunjukkan bahwa
selama empat tahun terakhir, terjadi fluktuasi yang cukup signifikan dalam
alokasi pupuk bersubsidi, baik secara total maupun berdasarkan jenis pupuk.
1. Total Alokasi Pupuk Bersubsidi
Pada tahun 2019, jumlah alokasi pupuk bersubsidi mencapai angka
tertinggi, yaitu 116.200 ton. Namun, setelah itu terjadi penurunan drastis
menjadi 80.814 ton pada 2020, dan terus menurun hingga 57.666 ton pada 2021.
Meski demikian, pada 2022 alokasinya sedikit meningkat menjadi 76.898 ton,
tetapi belum kembali ke level tahun 2019. Penurunan ini bisa jadi dipengaruhi
oleh perubahan kebijakan nasional, penyesuaian kebutuhan, atau dampak pandemi
terhadap distribusi pupuk.
2. Pupuk NPK Bersubsidi
Alokasi pupuk NPK sempat menurun dari 27.986 ton (2019) menjadi
22.411 ton (2020), namun meningkat drastis pada 2021 menjadi 30.923 ton, dan
kembali naik pada 2022 menjadi 31.988 ton. Ini menandakan bahwa jenis pupuk ini
tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara
seimbang.
3. Pupuk Organik Bersubsidi
Alokasi pupuk organik mengalami penurunan sangat tajam dari 31.153
ton (2019) menjadi hanya 5.418 ton pada 2021, bahkan menjadi 4.015 ton di 2022.
Padahal, pupuk organik merupakan salah satu kunci dalam memperbaiki kesuburan
tanah jangka panjang. Hal ini bisa menjadi perhatian serius bagi pemerintah
daerah dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
4. Pupuk SP-36 Bersubsidi
Penurunan paling mencolok terjadi pada pupuk SP-36, dari 2.978 ton
(2019) menjadi hanya 46 ton pada 2021 dan 119 ton di tahun 2022. Ini
mencerminkan berkurangnya prioritas terhadap jenis pupuk ini, yang mengandung
fosfat penting untuk pertumbuhan akar dan bunga tanaman.
5. Pupuk Urea Bersubsidi
Alokasi pupuk urea juga menunjukkan penurunan tajam dari 28.997 ton
(2019) ke hanya 5.418 ton pada 2021. Namun, tahun 2022 menunjukkan pemulihan
signifikan menjadi 39.208 ton, bahkan lebih tinggi dari tahun 2019. Ini
menunjukkan adanya dorongan kembali terhadap pemakaian urea untuk kebutuhan
pertanian dasar.
6. Pupuk ZA Bersubsidi
Jenis pupuk ZA mengalami penurunan terus-menerus dari 25.086 ton
(2019) hingga hanya 1.568 ton pada 2022. Penurunan ini menandakan pergeseran
strategi penggunaan pupuk atau perubahan komposisi pupuk yang dibutuhkan di
lapangan.
Pada awal kegiatan yang dilakukan oleh penulis adalah dengan
pemetaan di basis anggota tingkat desa di Kabupaten Blitar. Upaya Ini
menghasilkan rumusan program yang salah satunya adalah program peningkatan
budidaya tanaman pangan di petani Kabupaten Blitar Desa Ngrendeng Kecamatan
Selorejo. tindak lanjut dari program ini
ini antara lain peningkatan pengetahuan budidaya tanaman pangan, pembuatan
Dekomposer, pupuk hayati, pgpr, enzim serta formula pencegahan hama secara
hayati.
Kelompok tani tingkat desa menyebarkan pengetahuan ke petani desa
lain melalui acara “Ngaji Tani. Dari
acara tersebut kemudian menghasilkan rumusan program secara detail yang saat
ini menjadi agenda rutin komunitas petani adalah produksi dekomposer secara
mandiri.
Pilihan program pembuatan dekomposer ini disebarkan dengan alasan:
Tidak memerlukan teknologi tinggi
Mudah di praktekkan
Baiaya murah
Potensi sumber bahan yang melimpah
Bahan mudah didapat karena berbahan dasar rumen sapi (limbah)
Penggunaannya tidak terlalu banyak dan bias di aplikasikan dengan
air dengan perbandingan 20 ml dengan penambahan air 14 liter
Dapat digunakan untuk berbagai hal dari pupuk dasar, penggemuk
ternak, bahan pokok pupuk lengkap dan sebagai bakteri untuk tanaman dan hewan
Ada demplot yang berhasil dan sukses petani dan ternak pada
pemanfaatan dekomposer
Sangat diperlukan petani dan mudah dalam penggunaan
Beberapa potensi diatas membuat penulis menjadikan dasar produksi
dekomposer sebagai salah satu cara pengembangan program pertanian masyarakat.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian Inovasi Dekomposer Rumen Sapi Untuk
Kedaulatan Pangan Petani di Kabupaten Blitar adalah:
Bagaimana ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input
pertanian eksternal (pupuk, benih, alat produksi) memengaruhi kemandirian dan
kedaulatan pangan desa?
Bagaimana inovasi lokal seperti dekomposer berbahan rumen sapi
dapat menjadi alternatif strategis dalam memperkuat keberdayaan petani dan
mempercepat transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan di tingkat
desa?
E. Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini dapat digambarkan
sebagai pendekatan partisipatif berbasis aksi (participatory action research)
dengan tahapan berbasis proses produksi dan aplikasi langsung di lapangan.
Penelitian ini berangkat dari permasalahan riil yang dihadapi petani terkait
ketergantungan terhadap pupuk kimia dan tingginya biaya produksi pertanian.
Dalam konteks tersebut, dilakukan identifikasi bahan-bahan lokal yang tersedia
melimpah di lingkungan pedesaan, seperti rumen sapi, air kelapa, air leri,
batang pisang, buah busuk, terasi, tetes tebu, ragi tape, susu segar, dan
dedak/katul, untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan dekomposer.
Proses penelitian melibatkan tahapan praktis berupa produksi
dekomposer dengan fermentasi tertutup menggunakan media air sumur, dan
dilengkapi aerator guna menjaga suplai oksigen terkontrol selama proses
berlangsung. Peneliti merancang dan mendokumentasikan seluruh tahapan secara
sistematis mulai dari persiapan bahan, pencampuran, fermentasi selama 7–30
hari, hingga filtrasi produk akhir. Validasi dilakukan melalui pengamatan
visual (warna dan bau), kestabilan bahan, serta uji aplikatif di lahan
pertanian masyarakat melalui kegiatan pendampingan.
Selain pendekatan eksperimental lapangan, metode ini juga bersifat
edukatif karena melibatkan pelatihan langsung kepada petani, penyuluhan manfaat
mikroba, dan pembiasaan penggunaan dekomposer dalam skala kecil untuk mendukung
praktik pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, metode penelitian ini tidak
hanya menghasilkan formula teknis pupuk organik cair, tetapi juga membangun
perubahan paradigma petani menuju kemandirian dan kedaulatan pangan berbasis
teknologi lokal yang murah, mudah, dan efektif.
F. Pembuatan Decomposer
Proses pembuatan dekomposer
dari bahan lokal diawali dengan persiapan wadah fermentasi berupa ember besar
atau drum tertutup yang bersih dan kedap udara. Wadah ini penting untuk menjaga
stabilitas proses fermentasi dan melindungi mikroorganisme dari paparan oksigen
berlebih. Selanjutnya, disiapkan cairan dasar berupa 70liter air sumur
non-PDAM, yang kemudian dicampur dengan 2–3 liter tetes tebu murni (molase), 5
liter air kelapa, dan 2 liter susu segar. Ketiga bahan ini berfungsi sebagai
penyedia unsur kalium, hormon pertumbuhan alami, serta protein dan kalsium bagi
mikroorganisme.
Setelah itu, ditambahkan bahan-bahan organik padat seperti batang
pisang sebanyak 5 kg, buah-buahan busuk 5–10 kg, dan dedak atau katul sebanyak
5 kg. Semua bahan ini dicacah kecil terlebih dahulu agar mudah terurai. Batang
pisang mengandung nitrogen tinggi yang membantu pertumbuhan vegetatif tanaman,
buah busuk menjadi sumber karbon dan nutrisi mikroba, sedangkan dedak
memperkaya komposisi organik dan mempercepat fermentasi.
Proses dilanjutkan dengan mencampurkan ¼ kg terasi dan 4 butir ragi
tape. Terasi berperan mempercepat fermentasi karena kandungan mikroba alaminya,
sementara ragi tape (mengandung Saccharomyces cerevisiae) mendukung pembentukan
alkohol dan mempercepat proses dekomposisi. Kemudian ditambahkan bahan utama
berupa 10–15 kg rumen sapi, yang merupakan sumber bakteri selulolitik,
proteolitik, dan penghasil nitrogen alami, menjadikan dekomposer ini sangat
kaya manfaat bagi pertanian organik.
Seluruh bahan kemudian diaduk merata agar terjadi pencampuran
sempurna dan fermentasi berjalan optimal. Drum atau wadah ditutup rapat, lalu
disimpan di tempat yang teduh selama 2–4 minggu. Selama masa fermentasi,
campuran diaduk setiap 3–5 hari untuk menjaga distribusi mikroorganisme.
Setelah fermentasi selesai, larutan disaring untuk memisahkan ampas yang tidak
terurai sempurna, dan pupuk cair siap digunakan.
Di balik upaya sederhana membuat pupuk organik cair (POC) dari
rumen sapi, tersimpan proses ilmiah yang sarat makna. Proses fermentasi yang
dilakukan secara aerobik, dengan bantuan aerator dan bahan alami, menunjukkan
dinamika yang menarik. Awalnya, pH larutan tercatat netral di angka 6,2—kondisi
yang ideal bagi mikroba untuk mulai bekerja. Seiring waktu, tepatnya di hari
ke-7, pH turun menjadi 5,1 sebagai tanda bahwa mikroba sedang aktif mengurai
bahan organik menjadi senyawa asam seperti asam laktat. Ini pertanda
baik—fermentasi berjalan! Setelah itu, pH cenderung stabil di kisaran 5,4–5,6
hingga hari ke-14, artinya proses mulai mapan dan mikroba bekerja dengan
seimbang. Suhu fermentasi yang terjaga di rentang 28–32°C juga menunjukkan
bahwa lingkungan tetap nyaman bagi mikroba-mikroba baik seperti Lactobacillus
dan Bacillus untuk berkembang.
Kita tahu, tanaman butuh makanan layaknya manusia. Maka dari itu,
kandungan hara dalam pupuk ini sangat penting. Dari hasil uji, kandungan
nitrogen mencapai 0,36%, fosfor sebesar 0,24%, dan kalium 0,31%. Angka-angka
ini lebih dari cukup jika dibandingkan dengan syarat minimal pupuk organik cair
menurut peraturan Kementan—yang hanya mensyaratkan masing-masing 0,20%.
Artinya, pupuk ini sudah layak pakai, bahkan punya keunggulan dari segi
kandungan hara makro.
Tak kalah penting adalah siapa yang “bekerja di balik
layar”—mikroba. Uji mikrobiologi menunjukkan bahwa POC rumen sapi ini dipenuhi
oleh mikroba aktif yang jumlahnya sangat tinggi. Bayangkan saja, dalam satu
mililiter, ada sekitar 91 juta koloni mikroba! Di antaranya ada Nitrosomonas
yang membantu menyediakan nitrat untuk tanaman, serta Bacillus dan
Lactobacillus yang tidak hanya melarutkan fosfat, tapi juga menghasilkan hormon
pertumbuhan alami. Inilah yang membuat POC ini istimewa: bukan hanya pupuk,
tapi juga pembenah tanah hidup yang menjaga kesuburan jangka panjang.
Selain kandungan dan mikroba, kita juga melihat bagaimana pupuk ini
bekerja secara praktis. Ketika dicampur dengan air, POC ini larut sempurna,
tidak meninggalkan sisa, dan tidak menyumbat alat semprot. Lebih hebatnya lagi,
pupuk ini tetap stabil disimpan hingga 30 hari dalam suhu ruang—tanpa berubah
warna, tanpa bau busuk, dan tanpa kehilangan kekuatan mikroba aktifnya.
Dan yang paling menarik tentu saja hasil akhirnya di lapangan.
Dalam uji coba sederhana pada tanaman sawi hijau, hasilnya sangat
menggembirakan. Tanaman yang diberi POC rumen sapi tumbuh 21% lebih tinggi dan
18% lebih berat daripada tanaman yang diberi pupuk kimia. Warna daunnya pun
tampak lebih segar dan akar lebih kuat—tanda bahwa tanaman tumbuh dengan sehat
dan seimbang.
Dari hasil observasi dan wawancara denngan petani Kabupaten Blitar
penulis merangkum temuann penggunaan dekomposer bagi petani dengan 7 (tujuh)
sumber inovasi Peter Drucker adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hubungan Antara Inovasi Dekomposer dengan Sumber Inovasi
Peter Drucker
Sumber: wawancara diolah (2025)
G. Pembahasan
Bagaimana ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input
pertanian eksternal (pupuk, benih, alat produksi) memengaruhi kemandirian dan
kedaulatan pangan desa?
Ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian
eksternal terbukti telah melemahkan fondasi kemandirian desa, baik dari aspek
ekonomi, sosial, maupun ekologis. Berdasarkan temuan lapangan dan data alokasi
pupuk bersubsidi 2019–2022, terlihat bahwa penurunan drastis ketersediaan pupuk
berdampak langsung pada ketidakpastian jadwal tanam, meningkatnya biaya
produksi, dan penurunan hasil pertanian. Ketika petani harus membeli pupuk,
benih, dan alat produksi dari luar dengan harga fluktuatif, maka mereka tidak
lagi memegang kendali atas sistem pangan yang mereka jalankan.
Secara struktural, kondisi ini menciptakan kemiskinan produksi,
yaitu situasi di mana petani tidak memiliki sumber daya atau teknologi untuk
menjalankan sistem pertanian secara mandiri. Dampaknya tidak hanya terbatas
pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada hilangnya pengetahuan lokal
seperti keterampilan menyimpan benih, membuat pupuk organik, hingga mengelola
siklus tanam berbasis kalender alam. Secara sosial, hal ini mempercepat
hilangnya identitas petani sebagai penjaga budaya pangan desa.
Fenomena ini memperjelas bahwa tanpa akses dan kontrol atas input
dasar pertanian, maka kedaulatan pangan tidak akan pernah terwujud. Petani
hanya akan menjadi pekerja dalam sistem yang dikendalikan oleh industri besar
dan kebijakan yang sering kali tidak berpihak.
Bagaimana inovasi lokal seperti dekomposer berbahan rumen sapi
dapat menjadi alternatif strategis dalam memperkuat keberdayaan petani dan
mempercepat transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan di tingkat
desa?
Inovasi lokal berupa dekomposer berbahan rumen sapi menunjukkan
potensi besar sebagai solusi alternatif yang strategis dan aplikatif bagi
petani desa. Berdasarkan hasil fermentasi laboratorium dan uji lapangan,
dekomposer ini mengandung mikroorganisme aktif seperti Bacillus sp.,
Lactobacillus sp., dan Nitrosomonas sp., yang mampu memperbaiki kesuburan tanah
secara biologis, menstimulasi pertumbuhan tanaman, dan mempercepat dekomposisi
bahan organik.
Keunggulan dekomposer ini tidak hanya terletak pada kandungan
mikrobanya, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku yang melimpah dan murah di
desa—seperti rumen sapi, air kelapa, batang pisang, bekatul, dan buah busuk.
Ini memungkinkan petani untuk memproduksi pupuk sendiri, tanpa harus tergantung
pada industri pupuk kimia. Dengan proses fermentasi sederhana, hasil pupuk cair
dari dekomposer rumen sapi terbukti meningkatkan tinggi tanaman hingga 21% dan
bobot hasil panen hingga 18% dibanding pupuk kimia biasa.
Dari sisi sosial, penggunaan dekomposer ini turut membangkitkan
kesadaran kolektif dan semangat gotong royong di kalangan petani. Program
pendampingan yang menyertai inovasi ini mendorong petani untuk kembali
mengenali potensi lokal mereka sendiri dan mulai membangun siklus pertanian
berbasis sumber daya lokal. Dalam jangka panjang, ini akan membentuk ekosistem
pertanian yang lebih tangguh terhadap krisis global, lebih mandiri dalam
produksi, serta lebih ramah terhadap lingkungan. Dengan demikian, dekomposer
rumen sapi bukan hanya alat teknis, tetapi simbol transformasi agrikultur desa
menuju arah yang lebih berdaulat, berkelanjutan, dan bermartabat.
H. Kesimpulan dan Penutup
Penelitian ini mengungkap realitas ketergantungan struktural petani
di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian eksternal yang berdampak serius
terhadap melemahnya kemandirian dan kedaulatan pangan desa. Sistem pertanian
saat ini, yang bersandar pada pupuk kimia, benih pabrikan, dan alat produksi
industri, menjadikan petani sebagai konsumen dari sistem pangan global yang
tidak mereka kuasai. Ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada aspek
ekonomi dan teknis, tetapi juga pada dimensi sosial dan budaya: terjadinya
erosi pengetahuan lokal, hilangnya semangat regenerasi petani muda, dan
kerentanan terhadap krisis pasokan.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, inovasi dekomposer berbahan
dasar rumen sapi yang dikembangkan melalui pendekatan partisipatif dan
teknologi sederhana terbukti mampu menjadi solusi alternatif yang efektif.
Dekomposer ini tidak hanya memenuhi standar kualitas pupuk hayati, tetapi juga
menghidupkan kembali semangat kemandirian berbasis sumber daya lokal. Kandungan
mikroorganisme aktif dalam rumen sapi seperti Bacillus sp., Lactobacillus sp.,
dan Nitrosomonas sp. memberikan manfaat agronomis yang signifikan, mulai dari
peningkatan kesuburan tanah, efisiensi pemupukan, hingga produktivitas tanaman
yang lebih tinggi.
Program pendampingan pembuatan dan penerapan dekomposer juga
terbukti berdampak sosial positif. Petani mulai kembali mengenal dan
memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti air kelapa, batang pisang, air cucian
beras, bekatul, hingga buah busuk. Ini menjadi langkah awal menuju transformasi
ekosistem pertanian desa yang berkelanjutan, regeneratif, dan berdaulat.
Pertanian tidak hanya soal pangan—ia adalah soal kedaulatan,
kebudayaan, dan keberlanjutan. Dalam konteks Kabupaten Blitar, inovasi lokal
seperti dekomposer rumen sapi menjadi bukti bahwa kekuatan untuk berdaulat
sebenarnya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam—dari desa, dari petani,
dari tanah itu sendiri. Melalui pendekatan ilmiah yang sederhana namun membumi,
petani didorong untuk tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi juga
penggerak pengetahuan dan penjaga keseimbangan ekosistem.
Upaya membangun kedaulatan pangan tidak akan pernah berhasil tanpa
perubahan paradigma. Diperlukan keberanian untuk meninggalkan pola lama yang
instan dan bergantung, menuju sistem pertanian yang dikelola secara mandiri,
sadar lingkungan, dan berbasis komunitas. Dekomposer rumen sapi hanyalah awal.
Yang lebih penting adalah proses membangun kesadaran, keberdayaan, dan
solidaritas petani sebagai fondasi utama transformasi pertanian di masa depan.
Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi
pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Blitar dan menjadi inspirasi
bagi wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa. Sudah saatnya desa tidak
hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga pusat inovasi, kemandirian, dan
harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Anindyawati, T. (2010). Potensi selulase dalam mendegradasi
lignoselulosa limbah pertanian untuk pupuk organik. Berita
selulosa, 45(2), 70-77.
Damayanti, S. S., Komala, O., & Effendi, E. M. (2020).
Identifikasi bakteri dari pupuk organik cair isi rumen sapi. Ekologia:
Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup, 18(2), 63-71.
George, S. A., Khan, S., Briggs, H., & Abelson, J. L. (2010).
CRH-stimulated cortisol release and food intake in healthy, non-obese
adults. Psychoneuroendocrinology, 35(4), 607-612.
Hidayat, R., Irmayanti, A., Setyawan, W., & Ismoyojati, R.
(2023). Penerapan Aplikasi Bank Sampah Untuk Meningkatkan Kepedulian Masyarakat
Terhadap Lingkungan Di Kelurahan Nanga Bulik. Jurnal Pengabdian kepada
Masyarakat Nusantara, 4(2), 1504-1509.
Hidayati, Y. A., Kurnani, T. B. A., Marlina, E. T., & Harlia,
E. (2011). Kualitas pupuk cair hasil pengolahan feses sapi potong menggunakan
saccharomyces cereviceae (liquid fertilizer quality produced by beef cattle
feces fermentation using saccharomyces cereviceae). Jurnal Ilmu Ternak
Universitas Padjadjaran, 11(2).
Husin, M. (2019). Study of Leucaena Leucocephala Seed Biomass
as a New Source for Cellulose (Doctoral dissertation, University of Malaya
(Malaysia)).
Maskur, R., & Firdaus, R. (2014). Pembuatan Pupuk Organik Cair
dari Limbah Rumah Tangga dengan Penambahan Rumen Sapi. Tugas Akhir.
Surabaya: Prodi DIII Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Nicholls, C. I., Altieri, M. A., & Vázquez, L. L. (2015).
Agroecología: Principios para la conversión y el rediseño de sistemas
agrícolas. Agroecología, 10(1), 61-72.
Nugroho, T. (2010). Mubyarto dan ilmu ekonomi yang
membumi. Pemikiran Agraria Bulak Sumur: Telaah Awal atas Pemikiran Sartono
Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto, Bab IV" Mubyarto dan Ilmu
Ekonomi yang Membumi."(Yogyakarta: STPN Press & Sajogyo Institute,
2010). Hlm, 199-321.
Patel, R. (2009). Food sovereignty. The journal of peasant
studies, 36(3), 663-706.
Prayogo, A. P., & Hanafi, N. D. (2018). Produksi Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum) Dengan Pemberian Pupuk Organik Cair Fermentasi Limbah Rumen
Sapi. Jurnal Online Pertanian Tropik, 5(2), 199-206.
Tan, J. H., & Topatimasang, R. (2011). Mengorganisir
rakyat: refleksi pengalaman pengorganisasian rakyat di Asia Tenggara.
INSISTPress.
Topatimasang, R., Rahardjo, T., & Fakih, M. (Eds.).
(2010). Pendidikan popular: Membangun kesadaran kritis. INSISTPress.
Situs :
,
Tentang Penulis
RUDIYANTO HENDRA SETIAWAN, alumni Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas
Brawijaya Malang (1997), dan alumni Magister Manajemen Inovasi Pada Universitas
Ma Chung Malang(2025), dan saat ini
sedang menempuh S2 di Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya (UBAYA). Aktif
sebagai Tenaga Ahli P3MD Kabupaten Blitar.
Sekarang aktif di Lembaga Pengembangan Untuk Kemandirian Masyarakat
‘Surya Sejahtera’ di Kediri, Jawa Timur. Tahun 2001-2002, sebagai Redaktur
tabloid robotik ‘Caltron’ (2001-2002). Terlibat dalam beberapa penelitian,
antara lain, tentang perpolisian masyarakat di Papua, serta ketahanan ekonomi
rakyat desa di Blitar. Tahun 2008-2009, sebagai fasilitator program Pengurangan
Resiko Bencana di wilayah Kabupaten Kediri. Sejak Juni 2009, bersama relawan
Sutojayan Blitar menghidupkan kembali tradisi ‘laku guyup’.
Lampiran I
Alat dan Bahan
Alat meliputi:
Pisau pencacah
Drum warna gelap ukuran 200 liter
Selang putih ukuran panjang 3 liter
Aerator 1 buah
Ember plastic 1 buah
Pengaduk kayu 1 buah
Plastik putih ukuran 1 meter x 1 meter 1 lembar
Penyaring
Karet gelang 10 buah
Karet ban 3 meter
Tatakan kayu 1buah
Corong plastic 1 buah
Bahan meliputi:
Rumen Sapi :
10-15 kg
Tetes Murni : 2-3 ltr
Air kelapa : 5 ltr
Susu segar : 2 ltr
Air leri : 5 ltr
Terasi :
¼ kg
Ragi Tape :
4 butir
Batang pisang : 5 kg
Buah Busuk : 5 kg
Dedak/katul : 5 Kg
Air sumur non PDAM : 80 % dari keseluruhan bahan
Lampiran II
Cara Pembuatan:
Masukkan air sumur kurang lebih 10 liter ke dalam drum
Masukkan Rumen sapi semua
Kemudian mulai aduk
Masukkan tetes dan bersihkan sisa tetes dibotol dengan air
Iris tipis-tipis bahan padat dan masukkan ke drum saat sudah cukup
dalam potongan kecil
Masukkan air kelapa, air leri ke dalam drum
Masukkan terasi
Bekatul yang sudah dicampur air masukkan ke drum
Masukkan ragi, air sumur sampai mencapai 80% dan aduk terus selama
proses memasukkan bahan semua tercampur
Tutup drum dengan plasik dan hidupkan aerator yang tertutup rapat
dengan plastic
Waktu pembuatan 7 hari.
Pada hari ke 5 dilihat kalau sudah ada selaput putih dan baunya
manis maka tanda sudah jadi
Aplikasi untuk pupuk dasar adalah 4 tutup botol aqua dekomposer
dicampur dalam 14 liter air. Aplikasi
untuk ternak, bahan pakan atau campuran air minum adalh 100 ml dicampur 5 liter
air

Comments
Post a Comment