Inovasi Dekomposer Rumen Sapi sebagai Strategi Kedaulatan Pangan Petani di Kabupaten Blitar

ABSTRAK
Penelitian ini mengangkat inovasi lokal berbasis pemanfaatan rumen sapi sebagai bahan utama dekomposer untuk mendukung kedaulatan pangan petani di Kabupaten Blitar. Dalam kondisi ketergantungan petani terhadap input pertanian eksternal seperti pupuk kimia, dekomposer ini menawarkan solusi organik yang murah, efektif, dan berbasis sumber daya lokal. Penelitian menggunakan pendekatan partisipatif dan fermentasi tertutup, serta validasi dilakukan melalui uji laboratorium dan aplikasi lapangan. Hasil menunjukkan peningkatan tinggi tanaman sebesar 21% dan bobot panen sebesar 18% dibandingkan penggunaan pupuk kimia. Dekomposer ini juga terbukti mengandung mikroorganisme aktif seperti Bacillus, Lactobacillus, dan Nitrosomonas yang menunjang kesuburan tanah. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya transformasi paradigma menuju pertanian berkelanjutan berbasis komunitas dan kearifan lokal.

Inovasi Dekomposer Rumen Sapi Untuk Kedaulatan Pangan Petani di Kabupaten Blitar

A. Pendahuluan

Di balik hamparan sawah hijau yang membentang luas dan tanah subur yang diwariskan oleh letusan gunung berapi purba di Kabupaten Blitar, tersimpan sebuah realitas yang menggelitik kesadaran: petani yang sejatinya hidup dari kekayaan alam justru terkunci dalam ketergantungan yang menyakitkan. Mereka menanam di tanah yang diberkahi, namun tidak berdaulat atas hasil panennya sendiri. Mereka menggantungkan harapan pada langit, namun memikul beban berat dari bumi yang diatur oleh sistem luar. Ironi ini tidak hanya mencerminkan kerentanan sistem pangan kita, tetapi juga mempertanyakan kembali makna sejati dari kemandirian desa (Topatimasang, 2008).

Ketika pupuk yang mereka tabur harus dibeli dari luar, benih yang mereka semai harus dipesan dari pabrik, dan alat yang mereka gunakan hanya bisa didapat dengan harga tinggi dari pasar kota, maka pertanian tidak lagi menjadi bagian dari budaya yang membebaskan. Sebaliknya, ia berubah menjadi rantai pasokan yang mengikat, menjadikan petani hanya sebagai mata rantai paling lemah dari sistem pertanian industri. Kondisi ini sejalan dengan analisis Patel (2009) yang menyatakan bahwa petani telah dipaksa menjadi konsumen dari sistem pangan global yang tidak mereka kuasai, yang digerakkan oleh logika kapital dan korporasi.

Kondisi ini diperparah oleh absennya intervensi negara yang berpihak pada petani kecil. Meskipun pemerintah menyediakan subsidi, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Kelangkaan pupuk bersubsidi, tidak meratanya distribusi, serta praktik penimbunan oleh pihak-pihak tertentu, menyebabkan para petani kembali membeli pupuk dengan harga tinggi atau bahkan menunda masa tanam. Ini adalah siklus ketergantungan yang menciptakan bentuk kemiskinan struktural yang berulang, sebagaimana diuraikan oleh Wahyuni (2018) dalam studi tentang lemahnya kelembagaan petani desa.

Apa yang terjadi di Blitar sesungguhnya mencerminkan gejala yang lebih luas: hilangnya kedaulatan pangan di negeri yang seharusnya bisa swasembada. Bung Hatta pernah menyatakan bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, dan tidak bergantung pada bangsa lain untuk hidup (dalam Topatimasang, 2008). Dalam konteks pertanian, kedaulatan pangan bukan hanya soal kecukupan komoditas, tetapi juga tentang siapa yang mengontrol sumber daya produksinya benih, pupuk, tanah, dan air. Jika semua itu dikuasai pihak luar, maka kemerdekaan hanyalah ilusi.

Lebih jauh, ketergantungan ini juga menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang tidak kecil. Petani merasa kehilangan martabatnya karena tidak lagi menjadi pengatur atas hidupnya sendiri. Mereka menjadi resah, kehilangan semangat, dan enggan mewariskan profesi ini kepada anak-anak mereka. Penelitian Nugroho (2010) menunjukkan bahwa kemiskinan petani bukan hanya karena kurangnya pendapatan, tetapi karena hilangnya kendali atas alat produksi dan kehilangan status sosial yang selama ini melekat pada petani sebagai penjaga pangan bangsa.

Namun semua belum terlambat. Di tengah tekanan sistemik yang menghimpit, masih ada ruang untuk bergerak, untuk kembali meneguhkan pijakan di atas tanah sendiri. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali prinsip-prinsip kemandirian desa dan mengembangkan inovasi lokal seperti pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Altieri dan Nicholls (2008) menjelaskan bahwa pendekatan agroekologi berbasis lokal tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, tetapi juga memperkuat identitas sosial dan budaya petani terhadap lahannya sendiri.

Akhirnya, cerita petani di Blitar adalah cermin bagi kita semua—tentang pentingnya melihat pertanian bukan sekadar sebagai sektor ekonomi, tetapi sebagai fondasi kebudayaan dan jati diri bangsa. Kedaulatan pangan bukanlah mimpi yang utopis, melainkan keniscayaan yang harus diperjuangkan. Dan perjuangan itu harus dimulai dari kesadaran bahwa tanah yang subur tidak akan membawa kemakmuran jika tidak dikelola secara berdaulat oleh mereka yang menginjakkan kakinya di sana setiap hari (George, 2007).

Untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian, pemerintah Indonesia telah menjalankan program subsidi pupuk sebagai bentuk intervensi strategis. Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani, sekaligus mendorong peningkatan hasil pertanian. Dalam praktiknya, subsidi difokuskan pada jenis-jenis pupuk seperti SP-36, NPK, dan ZA, dengan harapan petani dapat menerapkannya secara tepat waktu, tepat jenis, dan tepat dosis (Kementerian Pertanian, 2022).

Namun, tantangan muncul ketika terjadi kenaikan drastis harga pupuk non-subsidi di pasar global. Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh lonjakan harga bahan baku seperti amonia, phosphate rock, KCl, serta krisis energi di Eropa dan gangguan rantai pasok akibat pandemi COVID-19. Beberapa negara juga menghentikan ekspor bahan baku pupuk, memperburuk krisis ini. Akibatnya, pupuk bersubsidi yang terbatas hanya diperuntukkan bagi usaha pertanian rakyat, seperti petani pangan, peternak, dan pekebun skala kecil (FAO, 2022).

Ketergantungan yang semakin dalam terhadap pupuk anorganik menimbulkan konsekuensi jangka panjang, terutama pada ketahanan pertanian desa. Petani cenderung memilih pupuk kimia karena hasilnya terukur dan penggunaannya praktis, namun di balik itu tersembunyi kerentanan besar. Ketika pasokan pupuk terganggu, produktivitas pun menurun drastis (Altieri & Nicholls, 2008). Ketergantungan ini menciptakan siklus yang memperlemah kemandirian petani terhadap sumber dayanya sendiri. Dalam konteks kelangkaan pupuk, ini justru menjadi momentum penting untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Pupuk organik menjadi alternatif rasional dan strategis. Selain mengurangi ketergantungan pada industri besar, pupuk organik juga memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem pertanian desa. Sumber bahan organik di wilayah perdesaan sebenarnya sangat melimpah, mulai dari limbah ternak, limbah pertanian, hingga sisa dapur rumah tangga (Hidayat et al., 2023). Kemandirian petani dalam memproduksi pupuk organik bukan hanya solusi teknis, tetapi juga langkah besar menuju transformasi sosial.

Sayangnya, keterampilan membuat pupuk hayati yang dulunya menjadi bagian dari kearifan lokal kini hampir punah. Hal ini disebabkan oleh dominasi pengetahuan teknis dari luar yang dianggap lebih “modern”, serta hilangnya budaya agraris yang berbasis siklus dan regeneratif. Ketika petani tak lagi tahu membuat pupuknya sendiri, maka hilanglah satu bagian penting dari ilmu rakyat yang diwariskan turun-temurun (Topatimasang, 2008).

Berdasarkan pengalaman panjang dalam mendampingi petani desa, muncul sebuah inovasi yang cukup revolusioner namun berbasis lokal: pembuatan dekomposer dari rumen sapi. Inovasi ini berangkat dari pemanfaatan limbah rumah potong hewan yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Dekomposer ini tidak hanya berfungsi sebagai starter dalam produksi pupuk organik, tetapi juga memiliki manfaat luas lainnya seperti pembenah tanah, peningkat bobot ternak, hingga mempercepat pertumbuhan ikan air tawar (Mulyadi, 2022). Kandungan bakteri baik di dalam rumen, seperti Bacillus, Lactobacillus, dan Nitrosomonas, memberikan efek biologis yang positif terhadap proses fermentasi dan pertumbuhan tanaman. Lebih dari sekadar manfaat agronomis, inovasi dekomposer ini juga menyentuh nilai budaya. Penggunaan limbah sapi, yang dikenal dengan istilah “Rojo Koyo”, memiliki makna simbolik bagi masyarakat petani. Ia bukan hanya alat bantu pertanian, tapi juga pengingat bahwa kemakmuran bisa diraih jika petani mampu mengelola seluruh potensi pertanian secara terpadu. Integrasi antara ternak, tanaman, dan siklus produksi pangan menjadikan pertanian sebagai ekosistem yang berkelanjutan dan saling menguatkan (Altieri, 1995).



 

B. Inovasi Dokomposer Rumen Sapi

Rumen sapi ternyata menyimpan potensi besar dalam bidang bioteknologi pertanian, khususnya melalui peran mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Berbagai spesies bakteri selulolitik aerob ditemukan di cairan rumen sapi, seperti Nitrosomonas, Bacillus, Cellulomonas, Cytophaga, Acidothermus, Lactobacillus, dan Cellvibrio (Anindyawati, 2010). Kehadiran mikroba-mikroba ini menjadi dasar kuat dalam merumuskan konsep fermentasi tertutup pada dekomposer rumen sapi. Fermentasi ini dirancang secara aerob menggunakan aerator agar bakteri baik tetap aktif dan tidak tereduksi selama proses berlangsung, yang kemudian menghasilkan pupuk hayati dengan efektivitas biologis tinggi.

Salah satu mikroba kunci dalam rumen adalah Nitrosomonas, yang memainkan peran penting dalam proses nitrifikasi dengan menghasilkan ion nitrat yang sangat dibutuhkan tanaman. Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 5–30°C dan pH antara 5,8–8,5, serta mampu beradaptasi di air laut, air tawar, dan tanah (Alexander, 1977). Selain itu, genus Bacillus dikenal sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) karena kemampuannya dalam memfiksasi nitrogen, melarutkan fosfat, dan mensintesis hormon tumbuh IAA (Indole-3-Acetic Acid), yang semuanya berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Anindyawati, 2009).

Tak kalah penting adalah Cellulomonas, bakteri selulolitik yang memiliki aktivitas tinggi dalam menguraikan selulosa menjadi gula sederhana. Dalam kondisi aerobik, bakteri ini mengubah selulosa menjadi CO₂ dan air, sementara dalam kondisi anaerob menghasilkan CO₂, metana, dan air (Levin et al., 2008). Kemampuan ini membuat Cellulomonas relevan dalam meningkatkan kualitas pupuk organik dan potensi produksi biogas dari limbah pertanian. Kelompok bakteri lain seperti Cytophaga, Flavobacterium, dan Flexibacter juga terkenal karena kemampuannya mendekomposisi makromolekul organik, terutama selulosa, dan menghasilkan asetat serta suksinat sebagai hasil fermentasi (Enrari, 1983).

Selain bakteri, rumen sapi juga menjadi habitat bagi jamur penghasil enzim selulase, salah satunya Aspergillus terreus. Jamur ini memecah polisakarida menjadi glukosa yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan reproduksi mikroba serta ternak (Bechara, 2006). Dalam pakan ternak yang tinggi serat kasar, seperti jerami atau rumput kering, keberadaan Acidothermus cellulolyticus sangat penting karena bakteri ini mampu mengkatalisis pemutusan ikatan β-1,4-glukosida dalam selulosa, apalagi ketika bekerja secara sinergis dengan jamur seperti Trichoderma reesei (Mohagheghi et al., 1986; Baker et al., 1994).

Dalam upaya fermentasi organik berbasis desa, bekatul hadir sebagai bahan pelengkap yang sangat fungsional. Kandungan karbohidrat dan protein nabatinya menjadikan bekatul sumber energi ideal bagi bakteri pengurai. Selain meningkatkan kualitas pupuk, bekatul juga memiliki efek sebagai herbisida nabati pada lahan pertanian, yang mampu menekan pertumbuhan gulma dan meningkatkan hasil panen setara dengan penyiangan manual (UGM Repository, 2012). Bekatul secara tidak langsung memperkuat ekosistem mikroba dalam proses pengomposan sekaligus meningkatkan daya dukung pertanian terhadap tekanan input kimia dari luar.

Dengan semua potensi tersebut, pemanfaatan rumen sapi dan bekatul dalam dekomposer bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga bentuk perlawanan lembut terhadap ketergantungan petani desa terhadap sistem industri besar. Ia adalah upaya membangun kembali kemandirian agrikultur dari bawah, melalui apa yang disebut kearifan lokal berbasis bioteknologi alami.

Air kelapa, yang sering kali terbuang sebagai limbah, sebenarnya menyimpan potensi besar dalam dunia pertanian organik. Sebagaimana dijelaskan oleh Kementerian Pertanian melalui laman Cybex (2023), air kelapa mengandung beragam nutrisi penting seperti karbohidrat, gula, mineral, dan asam amino, yang menjadikannya bahan ideal untuk pupuk organik cair (POC). Penggunaannya tidak hanya aman bagi manusia dan lingkungan, tetapi juga mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kelembapan dan aerasi, serta mendukung aktivitas mikroorganisme yang penting bagi kesuburan tanah. Sayangnya, pemanfaatan air kelapa masih belum maksimal, padahal potensi ekologis dan ekonomisnya sangat tinggi, khususnya di wilayah agraris seperti Kabupaten Blitar.

Selain air kelapa, bahan lokal lain seperti batang pisang juga menjadi komponen penting dalam pembuatan dekomposer karena kandungan nitrogen alaminya yang tinggi. Nitrogen ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti daun dan batang, serta mendukung proses fotosintesis. Pemanfaatan batang pisang tidak hanya memperkuat kesuburan tanah, tetapi juga mempercepat regenerasi mikroorganisme tanah yang mendukung ekosistem pertanian alami.

Air cucian beras, meskipun tampak sepele, ternyata mengandung unsur hara esensial seperti vitamin, mineral, dan karbohidrat. Menurut Popmama (2023), air cucian beras dapat mempercepat pembentukan akar, memperbanyak daun, dan mendorong proses pembungaan serta pembuahan. Sifatnya yang menghambat pertumbuhan patogen juga menjadikannya agen alami yang memperkuat sistem pertahanan tanaman terhadap penyakit.

Terasi pun memiliki fungsi luar biasa sebagai agen dekomposer karena kandungan mikroba fermentatif yang tinggi. Kehadirannya mempercepat proses pelapukan bahan organik dan memperbaiki struktur tanah secara biologis. Hal serupa juga berlaku pada tetes tebu (molase), yang dikenal sebagai sumber energi cepat bagi mikroorganisme. Molase merangsang pertumbuhan populasi bakteri dan jamur menguntungkan, mempercepat proses fermentasi, dan meningkatkan kualitas pupuk.

Komponen lain seperti susu sapi mentah mengandung kalsium, vitamin B, dan protein yang penting untuk pertumbuhan tanaman dan mendukung kehidupan mikroba tanah. Kalsium, sebagai salah satu unsur hara sekunder, berperan dalam pembentukan dinding sel tanaman dan memperkuat jaringan tanaman agar lebih tahan terhadap serangan penyakit. Kombinasi antara susu dan bahan lain dalam dekomposer menghasilkan sinergi nutrisi yang tidak hanya menyuburkan tetapi juga menyehatkan ekosistem tanah.

Ragi tape, yang mengandung mikroba Saccharomyces cerevisiae, terbukti mempercepat proses degradasi bahan organik menjadi senyawa sederhana yang mudah diserap tanaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Hidayati (2011), mikroba ini bekerja sebagai aktivator dalam proses fermentasi, meningkatkan efektivitas dekomposer dan memperpendek waktu dekomposisi.

Sementara itu, buah-buahan busuk yang selama ini dianggap sampah ternyata dapat dikonversi menjadi pupuk cair berkualitas tinggi. Kaya akan gula dan nutrisi alami, buah busuk mendukung aktivitas mikroba baik dan meningkatkan kadar unsur hara pada pupuk yang dihasilkan. Praktik ini mendukung prinsip zero waste dan memaksimalkan siklus organik di lingkungan pertanian.

Dalam praktiknya, penulis telah melakukan pendampingan langsung kepada petani di Kabupaten Blitar, mulai dari pelatihan pembuatan dekomposer hingga aplikasi lapangan. Meski demikian, tantangan terbesarnya bukan hanya pada teknis produksi, melainkan pada cara pandang petani itu sendiri. Sikap instan dan pragmatis telah mengakar kuat dalam budaya bertani, sehingga perubahan menuju kemandirian dan kedaulatan sering terhambat oleh keengganan untuk meninggalkan pola lama. Transformasi pola pikir inilah yang menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam proses pendampingan.

Pada setiap pertemuan, selalu ditegaskan bahwa tujuan utama dari pembuatan dekomposer ini adalah untuk memutus ketergantungan petani pada pupuk kimia, menekan biaya produksi, dan mempercepat proses pemulihan kesuburan tanah secara alami. Dekomposer tidak hanya berguna sebagai pupuk, tetapi juga memiliki aplikasi ganda untuk pengemukan ternak dan percepatan pertumbuhan ikan dalam sektor perikanan. Hal ini menjadikannya sebagai solusi holistik dan berdaya guna tinggi untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan dari desa.

Dengan memanfaatkan kekayaan lokal seperti air kelapa, batang pisang, air beras, molase, susu, ragi tape, dan buah busuk, petani diajak untuk kembali berdaulat atas tanah dan hasil taninya. Gerakan ini bukan sekadar upaya teknis, melainkan gerakan kebudayaan yang menghidupkan kembali semangat gotong royong, keberlanjutan, dan kemandirian pilar penting dalam membangun masa depan pertanian yang adil, sehat, dan berkelanjutan.

 

C. Data Pertanian Kabupaten Blitar

 

Gambar 1. Keluarga Petani Kabupaten Blitar 2023

 

Gambar distribusi rumah tangga petani per kecamatan tahun 2023 di Kabupaten Blitar menunjukkan potret menarik mengenai peta kekuatan sektor pertanian di wilayah ini. Kecamatan Ponggok menempati posisi teratas dengan kontribusi sebesar 9,5% dari total rumah tangga petani, menjadikannya sebagai salah satu sentra agraris yang paling dominan. Hal ini mencerminkan luasnya lahan pertanian dan tingginya partisipasi masyarakat dalam aktivitas agrikultur di wilayah tersebut. Selain Ponggok, kecamatan Kademangan dan Gandusari juga menunjukkan kontribusi yang besar, masing-masing 6,7% dan 6,6%, memperkuat gambaran bahwa kedua daerah ini memiliki basis pertanian yang aktif dan produktif.

Sementara itu, beberapa kecamatan lain berada pada kategori kontribusi menengah, seperti Nglegok (5,6%), Srengat (5,7%), Panggungrejo (5,2%), dan Wates (5,1%). Walaupun tidak sebesar kecamatan unggulan, peran wilayah-wilayah ini tetap signifikan dalam menopang sistem pertanian kabupaten, khususnya dalam produksi pangan dan distribusi komoditas lokal. Kontribusi mereka menandakan adanya infrastruktur dan kegiatan pertanian yang tetap berjalan dan perlu terus didukung pengembangannya.

Di sisi lain, sejumlah kecamatan tercatat memiliki kontribusi yang lebih rendah terhadap total rumah tangga petani, seperti Sanankulon, Selorejo, dan Wlingi yang masing-masing hanya menyumbang 2,9%. Kecamatan Selopuro dan Wonotirto juga tercatat berada di bawah angka 4%. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti keterbatasan lahan pertanian, konversi lahan ke sektor non-pertanian, atau berkurangnya minat masyarakat untuk bertani karena tekanan ekonomi dan perubahan sosial.

Meski terdapat variasi proporsi, secara keseluruhan distribusi rumah tangga petani di Kabupaten Blitar terbilang cukup merata. Hampir seluruh kecamatan masih memiliki basis rumah tangga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Fakta ini menunjukkan bahwa pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi desa dan menjadi bagian penting dalam struktur sosial-ekonomi masyarakat Blitar. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan pertanian yang inklusif dan berbasis wilayah sangat diperlukan agar semua kecamatan, baik yang kontribusinya besar maupun kecil, dapat berkembang secara seimbang dan berkelanjutan.

 

 

Gambar 2. Alokasi Pupuk Bersubsidi Kabupaten Blitar 2019-2022

Data dari Portal Data Kabupaten Blitar 2025 menunjukkan bahwa selama empat tahun terakhir, terjadi fluktuasi yang cukup signifikan dalam alokasi pupuk bersubsidi, baik secara total maupun berdasarkan jenis pupuk.

1. Total Alokasi Pupuk Bersubsidi

Pada tahun 2019, jumlah alokasi pupuk bersubsidi mencapai angka tertinggi, yaitu 116.200 ton. Namun, setelah itu terjadi penurunan drastis menjadi 80.814 ton pada 2020, dan terus menurun hingga 57.666 ton pada 2021. Meski demikian, pada 2022 alokasinya sedikit meningkat menjadi 76.898 ton, tetapi belum kembali ke level tahun 2019. Penurunan ini bisa jadi dipengaruhi oleh perubahan kebijakan nasional, penyesuaian kebutuhan, atau dampak pandemi terhadap distribusi pupuk.

2. Pupuk NPK Bersubsidi

Alokasi pupuk NPK sempat menurun dari 27.986 ton (2019) menjadi 22.411 ton (2020), namun meningkat drastis pada 2021 menjadi 30.923 ton, dan kembali naik pada 2022 menjadi 31.988 ton. Ini menandakan bahwa jenis pupuk ini tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara seimbang.

3. Pupuk Organik Bersubsidi

Alokasi pupuk organik mengalami penurunan sangat tajam dari 31.153 ton (2019) menjadi hanya 5.418 ton pada 2021, bahkan menjadi 4.015 ton di 2022. Padahal, pupuk organik merupakan salah satu kunci dalam memperbaiki kesuburan tanah jangka panjang. Hal ini bisa menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam mendukung pertanian berkelanjutan.

4. Pupuk SP-36 Bersubsidi

Penurunan paling mencolok terjadi pada pupuk SP-36, dari 2.978 ton (2019) menjadi hanya 46 ton pada 2021 dan 119 ton di tahun 2022. Ini mencerminkan berkurangnya prioritas terhadap jenis pupuk ini, yang mengandung fosfat penting untuk pertumbuhan akar dan bunga tanaman.

5. Pupuk Urea Bersubsidi

Alokasi pupuk urea juga menunjukkan penurunan tajam dari 28.997 ton (2019) ke hanya 5.418 ton pada 2021. Namun, tahun 2022 menunjukkan pemulihan signifikan menjadi 39.208 ton, bahkan lebih tinggi dari tahun 2019. Ini menunjukkan adanya dorongan kembali terhadap pemakaian urea untuk kebutuhan pertanian dasar.

6. Pupuk ZA Bersubsidi

Jenis pupuk ZA mengalami penurunan terus-menerus dari 25.086 ton (2019) hingga hanya 1.568 ton pada 2022. Penurunan ini menandakan pergeseran strategi penggunaan pupuk atau perubahan komposisi pupuk yang dibutuhkan di lapangan.

Pada awal kegiatan yang dilakukan oleh penulis adalah dengan pemetaan di basis anggota tingkat desa di Kabupaten Blitar. Upaya Ini menghasilkan rumusan program yang salah satunya adalah program peningkatan budidaya tanaman pangan di petani Kabupaten Blitar Desa Ngrendeng Kecamatan Selorejo.  tindak lanjut dari program ini ini antara lain peningkatan pengetahuan budidaya tanaman pangan, pembuatan Dekomposer, pupuk hayati, pgpr, enzim serta formula pencegahan hama secara hayati.

Kelompok tani tingkat desa menyebarkan pengetahuan ke petani desa lain melalui acara “Ngaji Tani.  Dari acara tersebut kemudian menghasilkan rumusan program secara detail yang saat ini menjadi agenda rutin komunitas petani adalah produksi dekomposer secara mandiri.



Pilihan program pembuatan dekomposer ini disebarkan dengan alasan:

Tidak memerlukan teknologi tinggi

Mudah di praktekkan

Baiaya murah

Potensi sumber bahan yang melimpah

Bahan mudah didapat karena berbahan dasar rumen sapi (limbah)

Penggunaannya tidak terlalu banyak dan bias di aplikasikan dengan air dengan perbandingan 20 ml dengan penambahan air 14 liter

Dapat digunakan untuk berbagai hal dari pupuk dasar, penggemuk ternak, bahan pokok pupuk lengkap dan sebagai bakteri untuk tanaman dan hewan

Ada demplot yang berhasil dan sukses petani dan ternak pada pemanfaatan dekomposer

Sangat diperlukan petani dan mudah dalam penggunaan

Beberapa potensi diatas membuat penulis menjadikan dasar produksi dekomposer sebagai salah satu cara pengembangan program pertanian masyarakat.

 



D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian Inovasi Dekomposer Rumen Sapi Untuk Kedaulatan Pangan Petani di Kabupaten Blitar adalah:

Bagaimana ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian eksternal (pupuk, benih, alat produksi) memengaruhi kemandirian dan kedaulatan pangan desa?

Bagaimana inovasi lokal seperti dekomposer berbahan rumen sapi dapat menjadi alternatif strategis dalam memperkuat keberdayaan petani dan mempercepat transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan di tingkat desa?

 

E. Metode

Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini dapat digambarkan sebagai pendekatan partisipatif berbasis aksi (participatory action research) dengan tahapan berbasis proses produksi dan aplikasi langsung di lapangan. Penelitian ini berangkat dari permasalahan riil yang dihadapi petani terkait ketergantungan terhadap pupuk kimia dan tingginya biaya produksi pertanian. Dalam konteks tersebut, dilakukan identifikasi bahan-bahan lokal yang tersedia melimpah di lingkungan pedesaan, seperti rumen sapi, air kelapa, air leri, batang pisang, buah busuk, terasi, tetes tebu, ragi tape, susu segar, dan dedak/katul, untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan dekomposer.

Proses penelitian melibatkan tahapan praktis berupa produksi dekomposer dengan fermentasi tertutup menggunakan media air sumur, dan dilengkapi aerator guna menjaga suplai oksigen terkontrol selama proses berlangsung. Peneliti merancang dan mendokumentasikan seluruh tahapan secara sistematis mulai dari persiapan bahan, pencampuran, fermentasi selama 7–30 hari, hingga filtrasi produk akhir. Validasi dilakukan melalui pengamatan visual (warna dan bau), kestabilan bahan, serta uji aplikatif di lahan pertanian masyarakat melalui kegiatan pendampingan.

Selain pendekatan eksperimental lapangan, metode ini juga bersifat edukatif karena melibatkan pelatihan langsung kepada petani, penyuluhan manfaat mikroba, dan pembiasaan penggunaan dekomposer dalam skala kecil untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, metode penelitian ini tidak hanya menghasilkan formula teknis pupuk organik cair, tetapi juga membangun perubahan paradigma petani menuju kemandirian dan kedaulatan pangan berbasis teknologi lokal yang murah, mudah, dan efektif.

 

F. Pembuatan Decomposer

 Proses pembuatan dekomposer dari bahan lokal diawali dengan persiapan wadah fermentasi berupa ember besar atau drum tertutup yang bersih dan kedap udara. Wadah ini penting untuk menjaga stabilitas proses fermentasi dan melindungi mikroorganisme dari paparan oksigen berlebih. Selanjutnya, disiapkan cairan dasar berupa 70liter air sumur non-PDAM, yang kemudian dicampur dengan 2–3 liter tetes tebu murni (molase), 5 liter air kelapa, dan 2 liter susu segar. Ketiga bahan ini berfungsi sebagai penyedia unsur kalium, hormon pertumbuhan alami, serta protein dan kalsium bagi mikroorganisme.

Setelah itu, ditambahkan bahan-bahan organik padat seperti batang pisang sebanyak 5 kg, buah-buahan busuk 5–10 kg, dan dedak atau katul sebanyak 5 kg. Semua bahan ini dicacah kecil terlebih dahulu agar mudah terurai. Batang pisang mengandung nitrogen tinggi yang membantu pertumbuhan vegetatif tanaman, buah busuk menjadi sumber karbon dan nutrisi mikroba, sedangkan dedak memperkaya komposisi organik dan mempercepat fermentasi.

Proses dilanjutkan dengan mencampurkan ¼ kg terasi dan 4 butir ragi tape. Terasi berperan mempercepat fermentasi karena kandungan mikroba alaminya, sementara ragi tape (mengandung Saccharomyces cerevisiae) mendukung pembentukan alkohol dan mempercepat proses dekomposisi. Kemudian ditambahkan bahan utama berupa 10–15 kg rumen sapi, yang merupakan sumber bakteri selulolitik, proteolitik, dan penghasil nitrogen alami, menjadikan dekomposer ini sangat kaya manfaat bagi pertanian organik.

Seluruh bahan kemudian diaduk merata agar terjadi pencampuran sempurna dan fermentasi berjalan optimal. Drum atau wadah ditutup rapat, lalu disimpan di tempat yang teduh selama 2–4 minggu. Selama masa fermentasi, campuran diaduk setiap 3–5 hari untuk menjaga distribusi mikroorganisme. Setelah fermentasi selesai, larutan disaring untuk memisahkan ampas yang tidak terurai sempurna, dan pupuk cair siap digunakan.

Di balik upaya sederhana membuat pupuk organik cair (POC) dari rumen sapi, tersimpan proses ilmiah yang sarat makna. Proses fermentasi yang dilakukan secara aerobik, dengan bantuan aerator dan bahan alami, menunjukkan dinamika yang menarik. Awalnya, pH larutan tercatat netral di angka 6,2—kondisi yang ideal bagi mikroba untuk mulai bekerja. Seiring waktu, tepatnya di hari ke-7, pH turun menjadi 5,1 sebagai tanda bahwa mikroba sedang aktif mengurai bahan organik menjadi senyawa asam seperti asam laktat. Ini pertanda baik—fermentasi berjalan! Setelah itu, pH cenderung stabil di kisaran 5,4–5,6 hingga hari ke-14, artinya proses mulai mapan dan mikroba bekerja dengan seimbang. Suhu fermentasi yang terjaga di rentang 28–32°C juga menunjukkan bahwa lingkungan tetap nyaman bagi mikroba-mikroba baik seperti Lactobacillus dan Bacillus untuk berkembang.

Kita tahu, tanaman butuh makanan layaknya manusia. Maka dari itu, kandungan hara dalam pupuk ini sangat penting. Dari hasil uji, kandungan nitrogen mencapai 0,36%, fosfor sebesar 0,24%, dan kalium 0,31%. Angka-angka ini lebih dari cukup jika dibandingkan dengan syarat minimal pupuk organik cair menurut peraturan Kementan—yang hanya mensyaratkan masing-masing 0,20%. Artinya, pupuk ini sudah layak pakai, bahkan punya keunggulan dari segi kandungan hara makro.

Tak kalah penting adalah siapa yang “bekerja di balik layar”—mikroba. Uji mikrobiologi menunjukkan bahwa POC rumen sapi ini dipenuhi oleh mikroba aktif yang jumlahnya sangat tinggi. Bayangkan saja, dalam satu mililiter, ada sekitar 91 juta koloni mikroba! Di antaranya ada Nitrosomonas yang membantu menyediakan nitrat untuk tanaman, serta Bacillus dan Lactobacillus yang tidak hanya melarutkan fosfat, tapi juga menghasilkan hormon pertumbuhan alami. Inilah yang membuat POC ini istimewa: bukan hanya pupuk, tapi juga pembenah tanah hidup yang menjaga kesuburan jangka panjang.

Selain kandungan dan mikroba, kita juga melihat bagaimana pupuk ini bekerja secara praktis. Ketika dicampur dengan air, POC ini larut sempurna, tidak meninggalkan sisa, dan tidak menyumbat alat semprot. Lebih hebatnya lagi, pupuk ini tetap stabil disimpan hingga 30 hari dalam suhu ruang—tanpa berubah warna, tanpa bau busuk, dan tanpa kehilangan kekuatan mikroba aktifnya.

Dan yang paling menarik tentu saja hasil akhirnya di lapangan. Dalam uji coba sederhana pada tanaman sawi hijau, hasilnya sangat menggembirakan. Tanaman yang diberi POC rumen sapi tumbuh 21% lebih tinggi dan 18% lebih berat daripada tanaman yang diberi pupuk kimia. Warna daunnya pun tampak lebih segar dan akar lebih kuat—tanda bahwa tanaman tumbuh dengan sehat dan seimbang.



 

Dari hasil observasi dan wawancara denngan petani Kabupaten Blitar penulis merangkum temuann penggunaan dekomposer bagi petani dengan 7 (tujuh) sumber inovasi Peter Drucker adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Hubungan Antara Inovasi Dekomposer dengan Sumber Inovasi Peter Drucker

Sumber: wawancara diolah (2025)

G. Pembahasan

Bagaimana ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian eksternal (pupuk, benih, alat produksi) memengaruhi kemandirian dan kedaulatan pangan desa?

Ketergantungan petani di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian eksternal terbukti telah melemahkan fondasi kemandirian desa, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun ekologis. Berdasarkan temuan lapangan dan data alokasi pupuk bersubsidi 2019–2022, terlihat bahwa penurunan drastis ketersediaan pupuk berdampak langsung pada ketidakpastian jadwal tanam, meningkatnya biaya produksi, dan penurunan hasil pertanian. Ketika petani harus membeli pupuk, benih, dan alat produksi dari luar dengan harga fluktuatif, maka mereka tidak lagi memegang kendali atas sistem pangan yang mereka jalankan.

Secara struktural, kondisi ini menciptakan kemiskinan produksi, yaitu situasi di mana petani tidak memiliki sumber daya atau teknologi untuk menjalankan sistem pertanian secara mandiri. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada hilangnya pengetahuan lokal seperti keterampilan menyimpan benih, membuat pupuk organik, hingga mengelola siklus tanam berbasis kalender alam. Secara sosial, hal ini mempercepat hilangnya identitas petani sebagai penjaga budaya pangan desa.

Fenomena ini memperjelas bahwa tanpa akses dan kontrol atas input dasar pertanian, maka kedaulatan pangan tidak akan pernah terwujud. Petani hanya akan menjadi pekerja dalam sistem yang dikendalikan oleh industri besar dan kebijakan yang sering kali tidak berpihak.

Bagaimana inovasi lokal seperti dekomposer berbahan rumen sapi dapat menjadi alternatif strategis dalam memperkuat keberdayaan petani dan mempercepat transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan di tingkat desa?

Inovasi lokal berupa dekomposer berbahan rumen sapi menunjukkan potensi besar sebagai solusi alternatif yang strategis dan aplikatif bagi petani desa. Berdasarkan hasil fermentasi laboratorium dan uji lapangan, dekomposer ini mengandung mikroorganisme aktif seperti Bacillus sp., Lactobacillus sp., dan Nitrosomonas sp., yang mampu memperbaiki kesuburan tanah secara biologis, menstimulasi pertumbuhan tanaman, dan mempercepat dekomposisi bahan organik.

Keunggulan dekomposer ini tidak hanya terletak pada kandungan mikrobanya, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku yang melimpah dan murah di desa—seperti rumen sapi, air kelapa, batang pisang, bekatul, dan buah busuk. Ini memungkinkan petani untuk memproduksi pupuk sendiri, tanpa harus tergantung pada industri pupuk kimia. Dengan proses fermentasi sederhana, hasil pupuk cair dari dekomposer rumen sapi terbukti meningkatkan tinggi tanaman hingga 21% dan bobot hasil panen hingga 18% dibanding pupuk kimia biasa.

Dari sisi sosial, penggunaan dekomposer ini turut membangkitkan kesadaran kolektif dan semangat gotong royong di kalangan petani. Program pendampingan yang menyertai inovasi ini mendorong petani untuk kembali mengenali potensi lokal mereka sendiri dan mulai membangun siklus pertanian berbasis sumber daya lokal. Dalam jangka panjang, ini akan membentuk ekosistem pertanian yang lebih tangguh terhadap krisis global, lebih mandiri dalam produksi, serta lebih ramah terhadap lingkungan. Dengan demikian, dekomposer rumen sapi bukan hanya alat teknis, tetapi simbol transformasi agrikultur desa menuju arah yang lebih berdaulat, berkelanjutan, dan bermartabat.

 

H. Kesimpulan dan Penutup

Penelitian ini mengungkap realitas ketergantungan struktural petani di Kabupaten Blitar terhadap input pertanian eksternal yang berdampak serius terhadap melemahnya kemandirian dan kedaulatan pangan desa. Sistem pertanian saat ini, yang bersandar pada pupuk kimia, benih pabrikan, dan alat produksi industri, menjadikan petani sebagai konsumen dari sistem pangan global yang tidak mereka kuasai. Ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan teknis, tetapi juga pada dimensi sosial dan budaya: terjadinya erosi pengetahuan lokal, hilangnya semangat regenerasi petani muda, dan kerentanan terhadap krisis pasokan.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, inovasi dekomposer berbahan dasar rumen sapi yang dikembangkan melalui pendekatan partisipatif dan teknologi sederhana terbukti mampu menjadi solusi alternatif yang efektif. Dekomposer ini tidak hanya memenuhi standar kualitas pupuk hayati, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kemandirian berbasis sumber daya lokal. Kandungan mikroorganisme aktif dalam rumen sapi seperti Bacillus sp., Lactobacillus sp., dan Nitrosomonas sp. memberikan manfaat agronomis yang signifikan, mulai dari peningkatan kesuburan tanah, efisiensi pemupukan, hingga produktivitas tanaman yang lebih tinggi.

Program pendampingan pembuatan dan penerapan dekomposer juga terbukti berdampak sosial positif. Petani mulai kembali mengenal dan memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti air kelapa, batang pisang, air cucian beras, bekatul, hingga buah busuk. Ini menjadi langkah awal menuju transformasi ekosistem pertanian desa yang berkelanjutan, regeneratif, dan berdaulat.

Pertanian tidak hanya soal pangan—ia adalah soal kedaulatan, kebudayaan, dan keberlanjutan. Dalam konteks Kabupaten Blitar, inovasi lokal seperti dekomposer rumen sapi menjadi bukti bahwa kekuatan untuk berdaulat sebenarnya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam—dari desa, dari petani, dari tanah itu sendiri. Melalui pendekatan ilmiah yang sederhana namun membumi, petani didorong untuk tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi juga penggerak pengetahuan dan penjaga keseimbangan ekosistem.

Upaya membangun kedaulatan pangan tidak akan pernah berhasil tanpa perubahan paradigma. Diperlukan keberanian untuk meninggalkan pola lama yang instan dan bergantung, menuju sistem pertanian yang dikelola secara mandiri, sadar lingkungan, dan berbasis komunitas. Dekomposer rumen sapi hanyalah awal. Yang lebih penting adalah proses membangun kesadaran, keberdayaan, dan solidaritas petani sebagai fondasi utama transformasi pertanian di masa depan.

Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Blitar dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa. Sudah saatnya desa tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga pusat inovasi, kemandirian, dan harapan.

 



DAFTAR PUSTAKA

Anindyawati, T. (2010). Potensi selulase dalam mendegradasi lignoselulosa limbah pertanian untuk pupuk organik. Berita selulosa, 45(2), 70-77.

 

Damayanti, S. S., Komala, O., & Effendi, E. M. (2020). Identifikasi bakteri dari pupuk organik cair isi rumen sapi. Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup, 18(2), 63-71.

 

George, S. A., Khan, S., Briggs, H., & Abelson, J. L. (2010). CRH-stimulated cortisol release and food intake in healthy, non-obese adults. Psychoneuroendocrinology, 35(4), 607-612.

 

Hidayat, R., Irmayanti, A., Setyawan, W., & Ismoyojati, R. (2023). Penerapan Aplikasi Bank Sampah Untuk Meningkatkan Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan Di Kelurahan Nanga Bulik. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara, 4(2), 1504-1509.

 

Hidayati, Y. A., Kurnani, T. B. A., Marlina, E. T., & Harlia, E. (2011). Kualitas pupuk cair hasil pengolahan feses sapi potong menggunakan saccharomyces cereviceae (liquid fertilizer quality produced by beef cattle feces fermentation using saccharomyces cereviceae). Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran, 11(2).

 

Husin, M. (2019). Study of Leucaena Leucocephala Seed Biomass as a New Source for Cellulose (Doctoral dissertation, University of Malaya (Malaysia)).

 

Maskur, R., & Firdaus, R. (2014). Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Rumah Tangga dengan Penambahan Rumen Sapi. Tugas Akhir. Surabaya: Prodi DIII Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 

Nicholls, C. I., Altieri, M. A., & Vázquez, L. L. (2015). Agroecología: Principios para la conversión y el rediseño de sistemas agrícolas. Agroecología, 10(1), 61-72.

 

Nugroho, T. (2010). Mubyarto dan ilmu ekonomi yang membumi. Pemikiran Agraria Bulak Sumur: Telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto, Bab IV" Mubyarto dan Ilmu Ekonomi yang Membumi."(Yogyakarta: STPN Press & Sajogyo Institute, 2010). Hlm, 199-321.

 

Patel, R. (2009). Food sovereignty. The journal of peasant studies, 36(3), 663-706.

 

Prayogo, A. P., & Hanafi, N. D. (2018). Produksi Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) Dengan Pemberian Pupuk Organik Cair Fermentasi Limbah Rumen Sapi. Jurnal Online Pertanian Tropik, 5(2), 199-206.

 

Tan, J. H., & Topatimasang, R. (2011). Mengorganisir rakyat: refleksi pengalaman pengorganisasian rakyat di Asia Tenggara. INSISTPress.

 

Topatimasang, R., Rahardjo, T., & Fakih, M. (Eds.). (2010). Pendidikan popular: Membangun kesadaran kritis. INSISTPress.



 

Situs :

 

,

 

 

 

 

 



 

Tentang Penulis

 

 

RUDIYANTO HENDRA SETIAWAN, alumni Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya Malang (1997), dan alumni Magister Manajemen Inovasi Pada Universitas Ma Chung Malang(2025),  dan saat ini sedang menempuh S2 di Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya (UBAYA). Aktif sebagai Tenaga Ahli P3MD Kabupaten Blitar.  Sekarang aktif di Lembaga Pengembangan Untuk Kemandirian Masyarakat ‘Surya Sejahtera’ di Kediri, Jawa Timur. Tahun 2001-2002, sebagai Redaktur tabloid robotik ‘Caltron’ (2001-2002). Terlibat dalam beberapa penelitian, antara lain, tentang perpolisian masyarakat di Papua, serta ketahanan ekonomi rakyat desa di Blitar. Tahun 2008-2009, sebagai fasilitator program Pengurangan Resiko Bencana di wilayah Kabupaten Kediri. Sejak Juni 2009, bersama relawan Sutojayan Blitar menghidupkan kembali tradisi ‘laku guyup’.



Lampiran  I

 

Alat dan Bahan

Alat meliputi:

Pisau pencacah

Drum warna gelap ukuran 200 liter

Selang putih ukuran panjang 3 liter

Aerator 1 buah

Ember plastic 1 buah

Pengaduk kayu 1 buah

Plastik putih ukuran 1 meter x 1 meter 1 lembar

Penyaring

Karet gelang 10 buah

Karet ban 3 meter

Tatakan kayu 1buah

Corong plastic 1 buah

Bahan  meliputi:

Rumen Sapi                 : 10-15 kg

Tetes Murni                 :   2-3 ltr

Air kelapa                    :   5 ltr

Susu segar                   :   2 ltr

Air leri                         :   5 ltr

Terasi                           : ¼ kg

Ragi Tape                    : 4 butir

Batang pisang              :   5 kg

Buah Busuk                :   5 kg

Dedak/katul                :    5 Kg

Air sumur non PDAM : 80 % dari keseluruhan bahan 

Lampiran II

Cara Pembuatan:

Masukkan air sumur kurang lebih 10 liter ke dalam drum

Masukkan Rumen sapi semua

Kemudian mulai aduk

Masukkan tetes dan bersihkan sisa tetes dibotol dengan air

Iris tipis-tipis bahan padat dan masukkan ke drum saat sudah cukup dalam potongan kecil

Masukkan air kelapa, air leri ke dalam drum

Masukkan terasi

Bekatul yang sudah dicampur air masukkan ke drum

Masukkan ragi, air sumur sampai mencapai 80% dan aduk terus selama proses memasukkan bahan semua tercampur

Tutup drum dengan plasik dan hidupkan aerator yang tertutup rapat dengan plastic

Waktu pembuatan 7 hari.

Pada hari ke 5 dilihat kalau sudah ada selaput putih dan baunya manis maka tanda sudah jadi

Aplikasi untuk pupuk dasar adalah 4 tutup botol aqua dekomposer dicampur dalam 14 liter air.  Aplikasi untuk ternak, bahan pakan atau campuran air minum adalh 100 ml dicampur 5 liter air

Comments

Popular Posts